
Menteri Luar Negeri Sugiono, di sela-sela kunjungan kerja ke Jepang bersama Presiden Prabowo, Senin (30/3).
JawaPos.com - Pemerintah Indonesia menuntut dilakukannya investigasi menyeluruh atas penyerangan terhadap prajurit perdamaian yang bertugas di Lebanon. Sebab, terdapat tiga prajurit TNI gugur saat menjalankan tugas sebagai bagian dari misi United Nations Interim Force in Lebanon (UNIFIL).
Ketiganya adalah almarhum Mayor Inf (Anm) Zulmi Aditya Iskandar, almarhum Serka (Anm) Muhammad Nur Ichwan, dan almarhum Kopda (Anm) Farizal Rhomadon.
Menteri Luar Negeri (Menlu) Sugiono menegaskan, investigasi harus dilakukan secara komprehensif, mengingat misi yang dijalankan adalah misi penjaga perdamaian.
“Kita menuntut agar dilakukan investigasi menyeluruh karena ini adalah misi penjaga perdamaian,” kata Sugiono usai menghadiri upacara pelepasan ketiga prajurit TNI di Bandara Soekarno-Hatta, Tangerang, Sabtu (4/4) malam.
Ia menekankan, pasukan penjaga perdamaian seharusnya tidak menjadi sasaran serangan. Oleh karena itu, diperlukan jaminan keamanan yang lebih kuat bagi seluruh personel yang bertugas.
Sugiono juga menjelaskan bahwa pasukan penjaga perdamaian memiliki mandat yang berbeda dari pasukan tempur.
“They are peacekeeping, not peacemaking. Mereka tidak dilengkapi dengan kemampuan untuk melakukan operasi tempur atau peacemaking,” tegasnya.
Menurutnya, para penjaga perdamaian dilatih untuk menjaga stabilitas dalam situasi damai, bukan untuk terlibat dalam konflik bersenjata.
Karena itu, Indonesia meminta Perserikatan Bangsa-Bangsa (PBB) melakukan evaluasi menyeluruh terhadap sistem perlindungan dan keselamatan pasukan penjaga perdamaian, khususnya dalam misi UNIFIL.
“Kita semua mengucapkan dukacita yang sedalam-dalamnya bagi keluarga yang ditinggalkan. Semoga para kusuma bangsa ini diterima di sisi Tuhan Yang Mahakuasa, dan keluarga yang ditinggalkan diberikan kekuatan serta kesabaran,” ujarnya.
