Ilustrasi Selat Hormuz. (Freepik)
JawaPos.com-Upaya membuka kembali jalur vital energi global melalui Selat Hormuz menghadapi hambatan serius di Dewan Keamanan Perserikatan Bangsa-Bangsa (DK PBB). Rusia, Tiongkok, dan Prancis dilaporkan menghalangi resolusi yang memungkinkan penggunaan kekuatan untuk menjamin kebebasan pelayaran di kawasan tersebut.
Mengutip laporan The New York Times berdasarkan sumber diplomatik dan pejabat senior PBB, draf resolusi itu memuat klausul yang memberi kewenangan kepada negara anggota untuk menggunakan berbagai cara, termasuk kekuatan militer, guna mencegah penutupan Selat Hormuz.
Usulan tersebut diajukan oleh Bahrain dan mendapat dukungan sejumlah negara Teluk. Hingga kini, rancangan resolusi telah memasuki revisi keempat setelah melalui serangkaian perundingan tertutup selama beberapa pekan terakhir.
Pemungutan suara resmi dijadwalkan berlangsung pada Jumat (4/4). Namun, belum ada kepastian apakah resolusi itu akan lolos, mengingat Rusia, Tiongkok, dan Prancis sebagai anggota tetap DK PBB memiliki hak veto.
Tidak hanya di antara anggota tetap, perbedaan pandangan juga terjadi di kalangan 10 anggota tidak tetap Dewan Keamanan. Hal ini semakin memperumit peluang tercapainya kesepakatan bersama terkait langkah konkret di Selat Hormuz.
Ketegangan di kawasan meningkat setelah serangan yang dilancarkan Amerika Serikat dan Israel terhadap sejumlah target di Iran pada 28 Februari lalu, termasuk di Teheran. Serangan tersebut menyebabkan kerusakan infrastruktur dan korban sipil.
Iran kemudian membalas dengan menyerang wilayah Israel serta fasilitas militer Amerika Serikat di Timur Tengah. Rangkaian aksi tersebut memicu eskalasi konflik yang berdampak langsung pada stabilitas kawasan.
Akibatnya, terjadi blokade de facto di Selat Hormuz, jalur strategis yang menjadi salah satu urat nadi distribusi minyak dan gas alam cair dunia. Kondisi ini menekan ekspor dan produksi energi dari kawasan Teluk, sekaligus mendorong kenaikan harga di pasar internasional.
