Logo JawaPos
Author avatar - Image
08 Maret 2026, 04.17 WIB

“Menara Air Pulau Jawa,” Dijaga Perhutani, Jika Dirusak Bencana Besar Mengancam

Curug Bibijilan di Sukabumi, Jabar. Salah satu contoh sumber mata air yang dijaga Perhutani. (Dok. Perhutani)  - Image

Curug Bibijilan di Sukabumi, Jabar. Salah satu contoh sumber mata air yang dijaga Perhutani. (Dok. Perhutani) 

TIGA ribu mata air di hutan rimba Jawa adalah “nyawa” kehidupan.

Beri aku cinta yang mengalir di sungai-sungai gunung

Itulah sebaris indah dari puisi “Beri Aku,” karya Rusli Marzuki Saria. Air mengalir membawa cinta sampai jauh. Terjadi selama beratus tahun di punggung pulau Jawa. Namun, jika tak dirawat sebentar saja akan tiba bencana, seperti di Sumatera.

Kisah air di hutan Perhutani adalah nyanyian air yang menetes  di sela akar dan bebatuan, lalu menjadi anak-anak sungai. Jatuh menimpa dedaunan, menyusup ke bawah akar, mengalir lagi dan berkecipak dalam dendang alam. Kayu-kayu di rimba berbisik sesamanya, menonton air kehidupan menunaikan tuhas kemanusiannya. Itulah tugas ribuan mata air di hutan Pulau Jawa.

Mata air itu ada di hutan yang bertengger di pundak Perum Perhutani. Mungkin tak sesiapa pun di pulau ini yang menjaga mata air sedemikian lama di hulunya, dalam hutan rimba Jawa, kecuali Perhutani. Data menunjukkan, setidaknya ada 2.931 mata air yang dijaga Perhutani atau hampir 3.000 banyaknya. Rinciannya Jateng 664 mata air, Jatim 1.324, dan Jabar 943 mata air.

Menara Air

Curug Citambur, Jabar. (Dok. Perhutani)

Sedemikian banyaknya, makanya kemudian, hutan yang dikelola Perum Perhutani sering disebut sebagai “menara air Pulau Jawa.” Di kawasan hutan negara jutaan hektare itu tersimpan ribuan mata air. Ini menjadi sumber air bagi desa, kota, irigasi pertanian, hingga industri. Jumlah air di bumi sejak dulu sampai sekarang, tetap sebanyak itu. Tuhan mengaturnya meski kita sering lupa.

Menurut ilmu, vegetasi hutan berfungsi menjaga daya serap tanah sehingga air hujan meresap. Lalu, tersimpan sebagai air tanah. Ketika keluar lagi, kita menyebutnya mata air yang menghidupi masyarakat.

Bengawan Solo yang sudah jadi lagu itu, Brantas dan Citarum, adalah sungai-sungai besar di pulau padat penduduk ini. Hulunya dari kawasan hutan pegunungan yang sebagian dikelola Perhutani. Jika hulu sudah rusak, maka banjir bandang, membawa lumpur, kayu dan batu akan terjadi. Musibah seperti di Sumatera akan terjadi di Jawa.

Bencana Sumatera, sesayup mata memandang di luar nalar. Desa dan kota rata tertimbun lumpur setinggi tegak. Berbau, basah, liat dan padat. Entah ke mana badan akan dibawa. Derita panjang lebih panjang dari pulau itu.

Apa rakyat Pulau Jawa mau seperti itu pula? Apalagi hutan Jawa hanya 2,4 juta hektare. Diambil pula 1,1 juta hektare untuk yang disebut “hutan sosial.” Pemerintah lupa, ribuan mata air ada di situ.

Itulah sebabnya kelestarian hutan Perhutani tidak hanya soal kehutanan, tetapi juga menyangkut keberlanjutan air bagi  penduduk Jawa. Mata air kehidupan Jawa ada di hulu. Jangan biarkan Perhutani sepi dalam hiruk-pikuk kehidupan.

Mata air di kawasan Perhutani, senantiasa dilindungi sebagai kawasan lindung atau sempadan mata air. Di sini dilarang menebang. Bahkan pada titik-titik tertentu dikelola bersama desa hutan, pemerintah daerah atau PDAM.

Editor: Ilham Safutra
Tags
Download Aplikasi JawaPos.com
Download PlaystoreDownload Appstore