
Menko Perekonomian Airlangga Hartarto. (YouTube Setpres)
JawaPos.com – Pemerintah mengkaji sejumlah skenario dampak konflik di Timur Tengah terhadap kondisi fiskal Indonesia.
Jika perang berlangsung lama dan mendorong lonjakan harga minyak dunia, defisit anggaran negara berpotensi melebar hingga melampaui batas 3 persen.
Menteri Koordinator Bidang Perekonomian Airlangga Hartarto menyampaikan bahwa pemerintah telah menyiapkan beberapa skenario berdasarkan durasi konflik dan pergerakan harga minyak global.
Menurut Airlangga, skenario tersebut menggunakan asumsi perang berlangsung selama lima bulan, enam bulan, hingga sepuluh bulan dengan dampak berbeda terhadap harga minyak.
Baca Juga:Purbaya Pastikan APBN Belum Diubah Meski Harga Minyak Mentah RI Naik Tembus USD 68 per Barel
“Nah kalau kita mengambil beberapa asumsi perang, katakanlah 5 bulan, 6 bulan dan 10 bulan, dengan masing-masing kenaikan harga BBM yang sampai USD 107. Kemudian 6 bulan USD 107-nya, 6 bulan kemudian menurun lagi,” ujar Airlangga dalam sidang kabinet di Istana Kepresidenan, Jakarta, Jumat (13/3).
Ia menjelaskan, dalam skenario konflik yang lebih panjang, harga minyak bahkan dapat menembus USD 130 per barel sebelum turun ke sekitar USD 125 pada akhir tahun.
Sementara itu, realisasi harga minyak Indonesia pada awal tahun masih berada di bawah asumsi Anggaran Pendapatan dan Belanja Negara (APBN).
Pada Januari, harga minyak mentah tercatat sekitar USD 64,41 per barel dan Februari USD 68,79 per barel.
“Pembelian kita di bulan Januari Februari itu angkanya USD 64,41 dan USD 68,79. Ini realisasi Pak, jadi realisasi di bawah APBN yang 70 (USD),” jelasnya.
Dari simulasi tersebut, lanjut Airlangga, pemerintah memproyeksikan rata-rata harga minyak berbeda pada tiap skenario.
