
seseorang yang mengunfollow akun media sosial yang menguras mental. (Freepik/freepik)
JawaPos.com - Di era digital saat ini, media sosial sudah menjadi bagian dari kehidupan sehari-hari. Kita menggunakannya untuk terhubung, mencari hiburan, bahkan mendapatkan inspirasi. Namun, tanpa disadari, apa yang kita konsumsi setiap hari di media sosial juga sangat memengaruhi kondisi mental kita.
Psikologi modern menunjukkan bahwa lingkungan digital memiliki dampak yang sama kuatnya dengan lingkungan nyata. Artinya, akun yang kamu ikuti bisa menjadi sumber energi positif—atau justru sebaliknya.
Dilansir dari Expert Editor pada Selasa (31/3), jika akhir-akhir ini kamu merasa lebih mudah cemas, minder, atau lelah secara emosional setelah scrolling, mungkin ini saatnya melakukan “digital detox ringan”: mulai dengan unfollow beberapa jenis akun berikut.
1. Akun yang Menampilkan “Kesempurnaan” Tanpa Realita
Akun dengan feed yang terlalu sempurna—tubuh ideal, hidup mewah, hubungan romantis tanpa konflik—sering kali memicu social comparison (perbandingan sosial).
Menurut psikologi, otak manusia secara alami membandingkan diri dengan orang lain. Ketika yang dilihat adalah versi “highlight” tanpa realita, kamu cenderung merasa hidupmu kurang.
Dampaknya:
Minder
Tidak puas dengan diri sendiri
Overthinking tentang pencapaian hidup
Kenapa perlu di-unfollow?
Karena kamu membandingkan “hidup nyata” dengan “ilusi digital”.
2. Akun Toxic Positivity
Sekilas terlihat positif, tapi sebenarnya berbahaya. Akun ini sering memaksakan narasi seperti:
“Harus selalu bahagia”
“Jangan pernah sedih”
“Kalau kamu gagal, berarti kurang bersyukur”
Psikologi menyebut ini sebagai emotional invalidation—penyangkalan terhadap emosi yang valid.
Dampaknya:
Menekan emosi
Merasa bersalah saat sedih
Tidak mampu memproses perasaan dengan sehat
Kenapa perlu di-unfollow?
Karena semua emosi, termasuk sedih dan marah, adalah bagian normal dari manusia.
3. Akun Drama, Gosip, dan Konflik
Konten penuh konflik, sindiran, dan drama bisa membuat otak terus berada dalam mode “waspada”.
Secara psikologis, ini memicu respons stres ringan yang terus-menerus (chronic stress).
Dampaknya:
Mudah emosi
Ikut terbawa suasana negatif
Kecemasan meningkat
Kenapa perlu di-unfollow?
Karena kamu tidak butuh stres tambahan dari kehidupan orang lain.
4. Akun yang Memicu FOMO (Fear of Missing Out)
Akun yang selalu menunjukkan aktivitas seru, traveling terus-menerus, atau gaya hidup aktif bisa memicu FOMO.
Dampaknya:
Merasa tertinggal
Gelisah tanpa alasan jelas
Tidak menikmati hidup sendiri
Kenapa perlu di-unfollow?
Karena hidup bukan perlombaan siapa paling sibuk atau paling seru.
5. Akun yang Mengandung Standar Kecantikan Tidak Realistis
Filter berlebihan, editing ekstrem, atau promosi standar kecantikan tertentu dapat merusak persepsi diri.
Psikologi menyebut ini sebagai body image distortion.
Dampaknya:
Tidak percaya diri
Membenci tubuh sendiri
Obsesi terhadap penampilan
Kenapa perlu di-unfollow?
Karena standar tersebut sering kali tidak realistis dan tidak sehat.
6. Akun Edukasi yang Justru Membuat Overthinking
Tidak semua akun edukasi itu sehat. Beberapa justru membuat kamu:
Terlalu menganalisis diri
Self-diagnose berlebihan
Merasa “ada yang salah” terus
Dampaknya:
Overthinking
Kecemasan meningkat
Identitas diri jadi kabur
Kenapa perlu di-unfollow?
Karena edukasi seharusnya membantu, bukan membuat kamu semakin bingung.
7. Akun Hustle Culture Berlebihan
Konten seperti:
“Kerja 18 jam sehari”
“Kalau kamu istirahat, kamu kalah”
“Sukses harus menderita dulu”
Ini mempromosikan toxic productivity.
Dampaknya:
Burnout
Merasa tidak pernah cukup
Kehilangan keseimbangan hidup
Kenapa perlu di-unfollow?
Karena istirahat bukan tanda kelemahan, tapi kebutuhan biologis.
8. Akun yang Membuat Kamu Merasa “Kecil”
Ini yang paling penting: akun apa pun yang setelah kamu lihat membuatmu merasa:
Tidak cukup baik
Tidak berharga
Tidak pantas
Secara psikologis, ini berkaitan dengan penurunan self-esteem.
Dampaknya:
Rasa tidak percaya diri
Menarik diri dari lingkungan sosial
Mood negatif berkepanjangan
Kenapa perlu di-unfollow?
Karena kesehatan mentalmu jauh lebih penting daripada tetap mengikuti akun tersebut.
Penutup: Kurasi Lingkungan Digital = Self-Care
Meng-unfollow bukan berarti kamu iri, lemah, atau tidak dewasa. Justru sebaliknya—itu tanda kamu sadar akan batasan diri dan berani menjaga kesehatan mental.
Coba tanyakan ini setiap kali melihat sebuah akun:
“Apakah akun ini membuat hidupku lebih baik atau justru lebih berat?”
Jika jawabannya yang kedua, mungkin sudah waktunya klik tombol unfollow.
