
seseorang yang mentalnya rusak oleh media sosial
JawaPos.com - di era digital saat ini, media sosial tidak lagi didominasi oleh generasi muda. Semakin banyak generasi tua—baik itu orang tua maupun lansia—yang aktif menggunakan platform seperti Facebook, WhatsApp, hingga TikTok.
Mereka menggunakannya untuk berkomunikasi, mencari informasi, hingga mengisi waktu luang. Namun, di balik manfaat tersebut, ada dampak psikologis yang sering tidak disadari, terutama ketika penggunaan berlangsung berjam-jam setiap hari.
Dilansir dari Geediting pada Jumat (20/3), terdapat delapan cara bagaimana kebiasaan ini secara perlahan dapat merusak kesehatan mental generasi tua menurut perspektif psikologi:
1. Meningkatkan Perasaan Kesepian
Ironisnya, meskipun media sosial dirancang untuk menghubungkan orang, penggunaan berlebihan justru dapat memperparah rasa kesepian. Generasi tua mungkin melihat interaksi orang lain—keluarga, teman lama—tanpa benar-benar terlibat secara langsung, sehingga menciptakan perasaan terasing.
2. Memicu Perbandingan Sosial yang Tidak Sehat
Melihat kehidupan orang lain yang tampak “lebih bahagia” atau “lebih sukses” dapat memicu perbandingan sosial. Secara psikologis, ini dikenal sebagai social comparison, yang dapat menurunkan harga diri dan memunculkan perasaan tidak puas terhadap hidup sendiri.
3. Overload Informasi (Information Overload)
Generasi tua cenderung tidak terbiasa menyaring informasi digital dalam jumlah besar. Terlalu banyak berita, opini, dan konten dapat menyebabkan kelelahan mental, kebingungan, bahkan kecemasan.
4. Meningkatkan Kecemasan dan Ketakutan
Paparan berita negatif secara terus-menerus—seperti konflik, bencana, atau isu kesehatan—dapat memperkuat kecemasan. Dalam psikologi, fenomena ini sering disebut sebagai doomscrolling, yaitu kebiasaan terus membaca berita buruk tanpa henti.
5. Gangguan Tidur
Menghabiskan waktu lama di media sosial, terutama sebelum tidur, dapat mengganggu ritme sirkadian. Cahaya biru dari layar dan stimulasi mental membuat otak tetap aktif, sehingga sulit untuk tidur nyenyak.
6. Ketergantungan Emosional
Media sosial dapat menciptakan ketergantungan terhadap validasi eksternal—seperti “like”, komentar, atau respons pesan. Generasi tua yang mulai terbiasa dengan pola ini bisa merasa gelisah atau tidak nyaman saat tidak mendapatkan respons.
7. Menurunnya Interaksi Sosial Nyata
Ketika waktu lebih banyak dihabiskan di dunia digital, interaksi langsung dengan keluarga atau lingkungan sekitar bisa berkurang. Padahal, hubungan sosial nyata memiliki peran penting dalam menjaga kesehatan mental, terutama di usia lanjut.
8. Meningkatkan Risiko Depresi Ringan
Akumulasi dari berbagai faktor di atas—kesepian, kecemasan, perbandingan sosial, dan kurangnya interaksi nyata—dapat berkontribusi pada munculnya gejala depresi ringan yang sering tidak disadari.
Penutup
Media sosial bukanlah sesuatu yang harus dihindari sepenuhnya, termasuk bagi generasi tua. Namun, penting untuk menggunakannya secara bijak dan seimbang. Membatasi waktu penggunaan, memilih konten yang positif, serta tetap menjaga interaksi sosial di dunia nyata adalah langkah penting untuk melindungi kesehatan mental.
