
Ilustrasi sakit jantung. (Dhimas Ginanjar/Nano Banana/JawaPos.com)
JawaPos.com – Akun media sosial Pakdhe Indro membagikan informasi terkati drugs induced cardiotoxicity, bahwa ada banyak obat memiliki efek buruk pada jantung. Hoaks soal obat yang disebut bisa merusak jantung tak hanya menyesatkan. Informasi keliru ini bisa berujung fatal bagi pasien.
Dr. dr. Vito A. Damay, SpJP(K), FIHA, FAsCC, FICA mengingatkan bahaya terbesar justru muncul saat pasien menghentikan obat. Terutama tanpa pengawasan dokter.
Menurutnya, pasien gagal jantung yang mendadak stop obat berisiko mengalami kondisi akut. Dampaknya bisa terjadi dalam waktu singkat.
“Pasien bisa mengalami gagal jantung akut. Paru-paru terendam cairan dan ginjal bisa ikut rusak,” tegasnya pada JawaPos.com.
Kondisi ini membuat fungsi organ vital terganggu. Bahkan bisa mengancam nyawa jika tidak segera ditangani.
Di sisi lain, narasi yang menyebut obat jantung berbahaya dinilai tidak tepat. Sebab, terapi obat justru menjadi kunci utama pengobatan.
Dokter Vito menegaskan, manfaat obat jauh lebih besar dibandingkan risikonya. Hal ini sudah dibuktikan dalam banyak studi medis.
“Obat jantung memperbaiki kerja jantung dan meringankan bebannya. Pasien bisa hidup lebih baik dan tetap beraktivitas,” ujarnya.
Ia menambahkan, penggunaan obat selalu dalam pengawasan dokter. Pemantauan dilakukan secara berkala untuk memastikan keamanan.
Kontrol rutin mencakup pemeriksaan klinis. Termasuk EKG, USG jantung, hingga tes laboratorium.
