
Volkswagen ID. UNYX 08, kendaraan listrik (EV), terlihat di jalur produksi pabrik Volkswagen Anhui di Hefei, Provinsi Anhui, Tiongkok (Reuters)
Pernyataan tersebut mencerminkan tekanan internal yang sedang dihadapi Volkswagen, yang kini menjalankan restrukturisasi besar untuk mempertahankan daya saing di pasar global yang semakin ditentukan oleh kecepatan inovasi dan efisiensi.
Dilansir dari Reuters, Selasa (24/3/2026), Blume menyampaikan bahwa pendekatan industrial Tiongkok menunjukkan tingkat perencanaan yang sulit diabaikan. "Pihak Tiongkok bergerak dengan cara yang sangat terencana dan memiliki prioritas yang jelas, semuanya terstruktur secara optimal," ujarnya dalam wawancara dengan Bild am Sonntag.
Dia menegaskan bahwa bukan hanya soal strategi di atas kertas, melainkan konsistensi dalam pelaksanaan. "Apa yang kami rasakan sangat positif di Tiongkok adalah tingkat disiplin yang tinggi dan kemauan untuk mengeksekusi," kata Blume.
"Penting bagi kami untuk tidak terpaku pada pendekatan internal semata. Dengan melihat ke luar, kami dapat belajar banyak dari bagaimana negara tersebut membangun dan mengembangkan industrinya," imbuhnya.
Pengakuan ini sekaligus mencerminkan tekanan nyata yang dihadapi Volkswagen di pasar terbesar dunia tersebut. Menurut Blume, persaingan di Tiongkok kini melibatkan "lebih dari 150 pesaing serta dinamika inovasi yang sangat kuat," sebuah kondisi yang mempercepat siklus inovasi sekaligus mempersempit ruang kesalahan bagi pemain lama.
Dalam konteks itu, keunggulan Tiongkok tidak hanya terletak pada skala pasar, tetapi juga pada orkestrasi kebijakan industri yang terkoordinasi, mulai dari rantai pasok baterai, insentif kendaraan listrik, hingga dukungan terhadap perusahaan teknologi domestik. Model ini memungkinkan produsen lokal bergerak lebih cepat dan agresif dibandingkan kompetitor global.
Tekanan tersebut mendorong Volkswagen mengambil langkah drastis di pasar domestiknya. Blume kembali menegaskan rencana pemangkasan hingga 50.000 pekerjaan di Jerman pada 2030 sebagai bagian dari restrukturisasi menyeluruh, yang mencakup efisiensi biaya dan realokasi investasi ke teknologi masa depan.
Sejumlah analis melihat pernyataan Blume sebagai indikasi perubahan sikap di kalangan industri otomotif Jerman yang selama ini dikenal konservatif. Pergeseran ini tidak hanya soal adopsi teknologi, tetapi juga menyangkut cara berpikir, dari pendekatan bertahap menuju model yang lebih terencana, disiplin, dan terpusat.
Tak hanya itu, dinamika ini memperlihatkan bahwa kompetisi global kini bergerak pada dua level sekaligus: inovasi produk dan efektivitas sistem industri. Dalam hal ini, Tiongkok dinilai unggul karena mampu menyelaraskan keduanya dalam kerangka kebijakan jangka panjang.
Situasi tersebut menempatkan produsen otomotif Eropa pada titik kritis. Tanpa perubahan struktural yang cepat dan terukur, keunggulan historis mereka berisiko terkikis oleh pemain baru yang lebih adaptif.
