
Ilustrasi kepadatan menuju keluar kapal di Pelabuhan Ketapang dari Gilimanuk. (Istimewa).
JawaPos.com — Parkir Kargo Gilimanuk mendadak berubah wajah. Bukan lagi sekadar tempat singgah, melainkan “kandang raksasa” yang menahan laju ribuan truk di ujung barat Pulau Dewata.
Situasi ini menghadirkan dilema nyata bagi para sopir logistik. Di satu sisi, ada tuntutan menjaga muatan tetap aman, di sisi lain waktu terus menekan menuju penutupan total pelabuhan saat Hari Raya Nyepi 2026.
Lintasan waktu terus bergulir tanpa kompromi. Jarum jam tak hanya berdetak, tapi seolah berlari kencang menuju keheningan yang sakral.
Namun di jalur Denpasar–Gilimanuk, suasana justru berkebalikan. Panas mesin, klakson, dan antrean panjang menciptakan ketegangan yang sulit dihindari.
Selasa (17/3/2026) siang menjadi titik balik. Kebijakan baru diberlakukan secara mendadak, mengubah fungsi Parkir Kargo Gilimanuk dari buffer zone menjadi lokasi penahanan kendaraan barang.
Langkah ini diambil demi satu tujuan besar. Arus kendaraan kecil harus tetap bergerak agar tidak lumpuh total sebelum pelabuhan ditutup.
Di balik kebijakan itu, tersimpan keresahan para sopir. Mereka yang sudah berhari-hari menghadapi kemacetan kini harus kembali menunggu tanpa kepastian.
Suara klakson menjadi bahasa protes yang paling nyata. Sesekali terdengar nyaring, seolah mewakili kegelisahan yang tak terucap.
Arif, sopir kontainer bermuatan tepung asal Surabaya, menjadi salah satu yang merasakan dampaknya. Raut wajahnya mencerminkan kelelahan sekaligus ketidakpercayaan.
