Logo JawaPos
Author avatar - Image
19 Oktober 2025, 22.00 WIB

Drama Besar di Timnas Indonesia: Tekanan Pemain Naturalisasi Diduga Jadi Pemicu Jatuhnya Shin Tae-yong dan Patrick Kluivert

Pemain naturalisasi Belanda disebut tekan PSSI hingga Shin Tae-yong dipecat. (eVnExpress)

 

JawaPos.com- Gonjang-ganjing internal kembali menghantam sepak bola Indonesia. Setelah Patrick Kluivert resmi lengser setelah tak lagi bekerja sama dengan PSSI pada Jumat (17/10), isu lama kembali mencuat. Benarkah pemecatan Shin Tae-yong beberapa bulan lalu dipicu tekanan dari pemain naturalisasi asal Belanda?

Kisruh ini mencuat setelah anggota DPR RI, Andre Rosiade, mengungkapkan bahwa salah satu pemain naturalisasi sempat menekan jajaran petinggi PSSI agar Shin Tae-yong (STY) disingkirkan dari kursi pelatih kepala tim nasional Indonesia.

Menurut Rosiade, konflik tersebut bermula pasca kekalahan 1-2 dari Tiongkok pada babak ketiga kualifikasi Piala Dunia 2026, Oktober 2024. Dalam laga itu, strategi eksperimen STY dianggap gagal dan memicu ketegangan di ruang ganti.

"Pemain itu mengatakan kepada Kepala Timnas Sumardji, kalau Shin Tae-yong tidak pergi, maka saya yang akan pergi. Anda bisa konfirmasi langsung ke Sumardji atau dokter tim. PSSI juga jarang membantah hal ini," ungkap Rosiade yang dilansir dari eVnExpress.

Pernyataan itu disebut menjadi titik awal upaya melengserkan pelatih asal Korea Selatan tersebut. Meski sempat membawa Indonesia menang bersejarah 2-0 atas Arab Saudi, STY akhirnya diberhentikan usai kegagalan di Piala ASEAN 2024 bersama skuad U-20.

Dalam pernyataan resminya, Ketua Umum PSSI Erick Thohir mengakui adanya ketegangan antara STY dan beberapa pemain, meski tidak menyebut nama secara langsung.

Media-media nasional juga melaporkan bahwa keputusan menunjuk Patrick Kluivert sebagai pengganti STY tak lepas dari keinginan sejumlah pemain naturalisasi Belanda yang kini mendominasi sekitar 65 persen skuad Garuda.

Namun, perjalanan Kluivert tak lebih mulus. Meski diperkuat nama-nama besar seperti Ole Romeny, Joey Pelupessy, dan Dean James, performa Timnas Indonesia di bawah asuhannya tak kunjung membaik. Dari enam laga di kualifikasi Piala Dunia, Garuda hanya mampu mencatat dua kemenangan dan empat kekalahan, dengan catatan kebobolan 15 gol.

"Gagalnya Indonesia lolos ke Piala Dunia menjadi momen penting untuk membuka tabir ini," lanjut Rosiade.

"Ke depan, PSSI harus memastikan tidak ada pemain yang merasa lebih berkuasa daripada tim nasional itu sendiri," pungkasnya.

Kini, setelah Kluivert resmi diberhentikan meski kontraknya berlaku hingga Januari 2027, PSSI kembali dihadapkan pada pertanyaan besar. Siapa sosok yang tepat untuk menahkodai Garuda?

Beberapa nama mulai mencuat. Timur Kapadze (eks pelatih Uzbekistan), Jesus Casas (mantan pelatih Irak), dan Bernardo Tavares (mantan pelatih PSM Makassar) disebut sebagai kandidat kuat. Tak hanya itu, pelatih asal Belanda seperti Mark van Bommel, Erik ten Hag, dan Phillip Cocu juga masuk radar.

Menariknya, Shin Tae-yong sendiri baru saja dipecat dari klub Korea Selatan, Ulsan Hyundai, setelah 65 hari bertugas. Meski begitu, pelatih berusia 54 tahun itu menegaskan tidak akan kembali menangani Timnas Indonesia.

Dengan badai konflik internal yang belum reda dan posisi pelatih yang kembali kosong, masa depan Garuda kini bergantung pada langkah besar PSSI berikutnya. Apakah mereka akan belajar dari kesalahan masa lalu, atau kembali terjebak dalam tekanan dari dalam tim sendiri.

Editor: Edi Yulianto
Tags
Download Aplikasi JawaPos.com
Download PlaystoreDownload Appstore