
Elon Musk, pendiri Tesla, SpaceX, dan xAI. (Reuters)
JawaPos.com - Ketegangan di kawasan Timur Tengah kembali meningkat setelah Korps Garda Revolusi Islam Iran (IRGC) menyatakan bahwa sejumlah perusahaan teknologi asal Amerika Serikat berpotensi menjadi target.
Dalam pernyataan yang beredar seperti dikutip dalam laman carcoops, Kamis (2/4) IRGC menyebut perusahaan-perusahaan tersebut diklaim memiliki peran dalam mendukung operasi teknologi, termasuk kecerdasan buatan (AI), komunikasi, hingga sistem intelijen.
Beberapa nama besar yang disebut dalam daftar tersebut antara lain Tesla, Apple, Microsoft, Google, Meta, Intel, Nvidia, Oracle, IBM dan Cisco. Selain itu, sejumlah perusahaan lain di sektor industri, energi, hingga keuangan juga ikut disebut.
Pernyataan tersebut muncul di tengah meningkatnya eskalasi konflik di kawasan Timur Tengah. IRGC menyatakan bahwa entitas yang dianggap terlibat dalam dukungan teknologi terhadap pihak lawan dapat menjadi sasaran.
Meski demikian, belum ada konfirmasi independen terkait implementasi ancaman tersebut.
Peringatan untuk Karyawan dan Warga
Menurut laporan media internasional, otoritas setempat disebut telah mengimbau karyawan di fasilitas perusahaan-perusahaan tersebut di kawasan Timur Tengah untuk meningkatkan kewaspadaan.
Warga sipil di sekitar lokasi tertentu juga diingatkan untuk menjaga jarak dan mengikuti arahan keamanan jika situasi memburuk.
Jika situasi berkembang lebih jauh, ancaman terhadap perusahaan teknologi besar ini berpotensi membawa dampak luas, tidak hanya pada keamanan, tetapi juga pada operasional bisnis global, rantai pasok teknologi, investasi dan pasar saham dan stabilitas ekonomi regional.
Perusahaan-perusahaan teknologi AS sendiri memiliki kehadiran di berbagai negara Timur Tengah, termasuk pusat operasional, kantor layanan, hingga infrastruktur teknologi.
