
Ilustrasi gelombang tsunami. (Pexels)
JawaPos.com - Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG) menyatakan gempa bumi berkekuatan magnitudo 7,6 yang mengguncang wilayah laut dekat Bitung, Sulawesi Utara, masuk dalam kategori gempa megathrust dan memicu terjadinya tsunami di sejumlah wilayah pesisir.
Plt Direktur Gempa Bumi dan Tsunami BMKG Rahmat Triyono menjelaskan, gempa tersebut memiliki kedalaman relatif dangkal, yakni sekitar 33 kilometer, yang masih termasuk dalam karakteristik gempa megathrust.
“Kalau melihat kedalamannya cukup dangkal, sekitar 33 kilometer. Kategori megathrust biasanya sampai kedalaman 30-an kilometer, dan ini masih masuk,” ujarnya dalam konfrensi pers kepada wartawan, Kamis (2/4).
Ia menambahkan, gempa terjadi di wilayah laut dan berkaitan langsung dengan aktivitas subduksi lempeng di kawasan Laut Maluku yang menekan wilayah Sulawesi Utara.
“Ini memang gempa dangkal di laut, jadi termasuk megathrust dari subduksi Laut Maluku menuju wilayah Sulawesi Utara,” jelasnya.
Rahmat juga menyebut episenter gempa berada di kawasan yang dikenal sebagai “bumbungan Melayu”, yaitu bagian dari struktur tektonik aktif di wilayah tersebut. Pergerakan lempeng yang saling bertumbukan di zona ini memicu guncangan kuat yang berpotensi menyebabkan tsunami, terutama di daerah pesisir yang dekat dengan sumber gempa.
Sebelumnya, BMKG mendeteksi tsunami dengan ketinggian kecil di Halmahera Barat dan Bitung pascagempa tersebut. Kondisi ini memperkuat bahwa gempa yang terjadi memiliki mekanisme yang mampu mengganggu kolom air laut.
BMKG mengimbau masyarakat, khususnya di wilayah pesisir Sulawesi Utara dan Maluku Utara, untuk tetap waspada terhadap potensi gempa susulan serta dampak lanjutan yang mungkin terjadi. Masyarakat juga diminta hanya mengakses informasi resmi melalui kanal BMKG yang telah terverifikasi guna menghindari hoaks.
