
Satgas Yonmek TNI Konga XXII-R UNIFIL tetap bertugas total meski berada di tengah-tengah situasi panas di Lebanon Selatan. (Penerangan Satgas Yonmek TNI Konga XXII-R UNIFIL)
JawaPos.com - Kementerian Pertahanan (Kemhan) mengonfirmasi bertambahnya prajurit TNI yang gugur dalam tugas bersama United Nations Interim Force in Lebanon (UNIFIL), pada Senin (30/3). Kedua prajurit tersebut bernama Kapten Infanteri Zulmi dan Sertu Ihwan.
Kepala Biro Informasi Pertahanan (Infohan) Sekretariat Jenderal (Setjen) Kemhan Brigjen TNI Rico Sirait menyampaikan hal itu saat dikonfirmasi pada Selasa (31/3). Dia menyatakan bahwa Pemerintah Indonesia melalui Kemhan sudah mendapat informasi dari UNIFIL.
”Kementerian Pertahanan Republik Indonesia mengkonfirmasi perkembangan terbaru terkait insiden yang menimpa prajurit Tentara Nasional Indonesia yang tengah menjalankan misi perdamaian United Nations Interim Force in Lebanon di Lebanon,” kata Rico.
Jenderal bintang satu TNI AD itu menyatakan bahwa situasi keamanan di wilayah penugasan memang dilaporkan mengalami eskalasi dalam beberapa hari terakhir. Akibatnya pada 29 Maret 2026, seorang prajurit TNI gugur dan beberapa lainnya mengalami luka-luka.
”Perkembangan terbaru yang diterima pada 30 Maret 2026 menunjukkan kembali terjadinya insiden di wilayah Lebanon Selatan yang berdampak pada personel Satgas TNI yang sedang melaksanakan tugas pengawalan untuk mendukung kegiatan operasional UNIFIL,” terang dia.
Rico mengungkapkan bahwa dalam insiden tersebut, 2 orang prajurit TNI dilaporkan gugur. Sementara 2 prajurit lainnya mengalami luka berat. Dia memastikan, para prajurit yang mengalami luka berat sudah mendapat penanganan medis intensif di fasilitas kesehatan di Beirut.
Berdasar informasi yang diterima oleh Rico, insiden terjadi di tengah meningkatnya intensitas pertempuran di wilayah tersebut. Sampai saat ini penyebab pasti kejadian tersebut masih dalam proses investigasi oleh UNIFIL. Investigasi dilakukan sesuai mekanisme.
”Pemerintah Indonesia melalui Kementerian Pertahanan dan TNI terus melakukan koordinasi erat dengan markas besar UNIFIL guna memastikan keselamatan seluruh personel serta menjamin penanganan terbaik bagi para korban. Langkah-langkah evakuasi dan penanganan medis juga telah dilaksanakan secara cepat sesuai prosedur operasional Perserikatan Bangsa-Bangsa (PBB),” jelasnya.
Lebih lanjut,Kemhan menegaskan bahwa keselamatan pasukan perdamaian harus menjadi prioritas utama. Seluruh pihak yang terlibat dalam konflik diharapkan menghormati hukum humaniter internasional serta menjamin keamanan personel penjaga perdamaian.
