
Ilustrasi seseorang menyesal. (freepik.com)
JawaPos.com - Ada orang ketika berlibur menikmati segala hasrat. Mereka benar-benar memberikan self reward atas dirinya. Namun, memanjakan diri itu kadang kerap membuat mereka lupa diri. Sehingga liburan membuat mereka menghabiskan banyak uang yang mereka cari bertahun-tahun.
Uang yang selama ini dikumpulkan atas kerja keras selama bertahun-tahun habis begitu saja ketika berlibur. Di ujung masa libur kerap mereka menyesal. Tak ayal, menimbulkan stres finansial. Emosi kembali tidak stabil.
Ketika berada dalam situasi seperti itu, orang-orang seperti itu disarankan untuk mengevaluasi diri dan mengevaluasi kebiasaan belanja. Tidak jarang juga diminta untuk melakukan perencanaan ulang keuangan supaya tidak terjadi penyesalan finansial.
Dikutip dari American Psychological Association terdapat beberapa langkah untuk mengatasi rasa menyesal atas berbelanja terlalu boros.
Perasaan menyesal sering muncul ketika seseorang sadar keputusan belanja tidak sesuai rencana. Mengakui kesalahan tanpa menyalahkan diri sendiri dapat mengurangi tekanan emosional. Rasa malu terhadap keputusan uang bisa memperburuk kondisi karena membuat seseorang menghindari masalah. Belajar dari pengalaman membuat seseorang bisa mengatur keuangan lebih sehat dan realistis.
Banyak orang sadar pemborosan setelah datangnya tagihan. Padahal kebiasaan kecil berulang sering menjadi penyebab utama. Hal ini membantu membangun kebiasaan baru yang sehat dan kesalahan berulang. Membuat anggaran dan meninjau transaksi membantu menemukan pola pengeluaran, misalnya belanja impulsif atau tekanan sosial saat liburan.
Banyak orang mengira terjadi overspending karena emosional. Lingkungan digital dan emosi memiliki peran besar pasa keputusan belanja. Untuk itu, penting melakukan pemahaman psikologis membantu seseorang belajar berhenti sejenak, merencanakan dan membuat keputusan finansial. Belanja menjadi obat untuk memperbaiki suasana hati karena otak melepas dopamin saat membeli sesuatu.
Setelah sadar akan kesalahan, langkah selanjutnya menyusun rencana keuangan baru. Disarankan membuat keputusan finansial secara tertata agar tidak kewalahan. Mencatat pengeluaran dan perencanaan dapat menurunkan stress finansial ketika pengeluaran tinggi. Melacak pengeluaran harian dapat membantu meningkatkan kesadaran terhadap penggunaan uang.
Memberi jeda waktu sebelum membeli barang menjadi teknik namun efektif. Banyak keinginan belanja ternyata hilang seteleh beberapa jam/hari. Hal ini membantu otak berpindah dari keputusan emosional ke rasional. Dengan menunggu, seseorang menilai apakah barang tersebut benar-benar dibutuhkan atau sesaat. Menunda pembelian minimal 24 jam dapat mengurangi impuls buying dan melindungi stabilitas finansial waktu lama.
Penyesalan tidak mengubah pengeluaran yang sudah terjadi, tetapi menjadi pelajaran berharga bagi masa depan. Banyak orang yang keluar dari masalah finansial karena adanya perencanaan dan mengontrol pengeluaran. Menata keuangan dengan baik dapat meningkatkan kesejahteraan psikologis jika diikuti tindakan nyata.
