Logo JawaPos
Author avatar - Image
30 Maret 2026, 18.30 WIB

7 Alasan Mengapa Orang yang Paling Setia Seringkali Dianggap Remeh Menurut Psikologi

seseorang yang dianggap remeh karena setia./Freepik/user25451090 - Image

seseorang yang dianggap remeh karena setia./Freepik/user25451090

JawaPos.com - Kesetiaan adalah salah satu kualitas paling berharga dalam hubungan—baik itu persahabatan, keluarga, maupun percintaan. Namun ironisnya, orang-orang yang paling setia justru sering kali tidak dihargai sebagaimana mestinya. Dalam banyak kasus, mereka malah dianggap biasa saja, diabaikan, atau bahkan dimanfaatkan.

Fenomena ini bukan sekadar kebetulan, melainkan dapat dijelaskan melalui berbagai perspektif psikologi.

Dilansir dari Expert Editor pada Minggu (29/3), terdapat tujuh alasan utama mengapa orang yang paling setia seringkali dianggap remeh.

1. Efek “Selalu Ada” (Availability Bias)

Dalam psikologi, ada kecenderungan manusia untuk meremehkan sesuatu yang selalu tersedia. Orang yang setia cenderung selalu ada—baik dalam kondisi senang maupun sulit. Karena kehadiran mereka terasa “pasti,” orang lain jadi menganggapnya sebagai hal yang biasa.

Ketika seseorang tidak pernah pergi, orang lain sering lupa bagaimana rasanya kehilangan. Akibatnya, nilai kehadiran tersebut menjadi tidak terlihat.

2. Kurangnya Tantangan Emosional

Manusia secara alami tertarik pada hal yang menantang atau sulit didapat. Orang yang setia biasanya stabil, konsisten, dan tidak menciptakan drama. Sayangnya, dalam beberapa konteks hubungan, hal ini justru dianggap “kurang menarik.”

Secara psikologis, otak kita lebih mudah terstimulasi oleh ketidakpastian dibandingkan kestabilan. Inilah mengapa orang yang setia sering kalah “menarik” dibandingkan mereka yang sulit ditebak.

3. Adaptasi Hedonis (Hedonic Adaptation)

Adaptasi hedonis adalah fenomena di mana seseorang cepat terbiasa dengan hal-hal baik dalam hidupnya. Ketika seseorang memiliki pasangan atau teman yang setia, lama-kelamaan kesetiaan itu dianggap sebagai standar, bukan lagi sesuatu yang istimewa.

Akibatnya, apresiasi menurun karena hal baik tersebut sudah terasa “normal.”

4. Kesetiaan Dianggap Sebagai Kelemahan

Dalam beberapa pola pikir, terutama yang dipengaruhi pengalaman buruk atau budaya tertentu, kesetiaan bisa disalahartikan sebagai ketergantungan atau kelemahan.

Orang yang setia sering dianggap “tidak punya pilihan lain” atau “takut kehilangan,” padahal sebenarnya mereka memilih untuk tetap bertahan karena nilai dan prinsip.

5. Kurangnya Batasan Diri (Boundaries)

Orang yang sangat setia sering kali juga memiliki kecenderungan untuk terlalu memberi dan kurang menetapkan batasan. Mereka sulit berkata “tidak,” sehingga orang lain bisa terbiasa memanfaatkan kebaikan mereka.

Dalam psikologi hubungan, kurangnya batasan diri membuat orang lain kehilangan rasa hormat, karena tidak ada konsekuensi atas perlakuan buruk.

6. Fokus Pada Orang Lain, Bukan Diri Sendiri

Orang setia cenderung menempatkan kebutuhan orang lain di atas kebutuhan diri sendiri. Mereka lebih fokus memberi daripada meminta.

Sayangnya, ketika seseorang tidak mengekspresikan kebutuhan atau keinginannya, orang lain bisa menganggap bahwa mereka “baik-baik saja,” sehingga perhatian terhadap mereka menjadi berkurang.

7. Nilai Kesetiaan Tidak Langsung Terlihat

Berbeda dengan kualitas seperti karisma, kecerdasan, atau kesuksesan yang mudah terlihat, kesetiaan adalah kualitas yang sering baru terasa ketika hilang.

Secara psikologis, manusia lebih mudah menghargai sesuatu setelah kehilangannya (loss aversion). Itulah mengapa banyak orang baru menyadari betapa berharganya seseorang yang setia setelah orang tersebut tidak lagi ada.

Penutup

Kesetiaan adalah kualitas yang langka dan mendalam, namun sering kali tidak mendapatkan penghargaan yang layak karena sifatnya yang tenang dan konsisten. Psikologi menunjukkan bahwa kecenderungan manusia untuk terbiasa, mencari tantangan, dan mengabaikan hal yang stabil menjadi faktor utama di balik fenomena ini.

Bagi kamu yang merasa sering diremehkan meski sudah setia, penting untuk tetap menjaga nilai tersebut—namun juga diimbangi dengan batasan diri dan penghargaan terhadap diri sendiri. Karena kesetiaan yang sehat bukan hanya tentang bertahan, tetapi juga tentang tahu kapan harus dihargai.

Pada akhirnya, orang yang tepat tidak akan menganggap kesetiaan sebagai sesuatu yang biasa—melainkan sebagai sesuatu yang sangat berharga.
Editor: Hanny Suwindari
Tags
Download Aplikasi JawaPos.com
Download PlaystoreDownload Appstore