Logo JawaPos
Author avatar - Image
29 Maret 2026, 15.45 WIB

Orang yang Mencapai Usia 60-an Tanpa Teman Dekat, Biasanya Memiliki 7 Kepribadian yang Sering Ditemukan Menurut Psikologi

seseorang yang tetap memiliki teman dekat di usia tua / freepik - Image

seseorang yang tetap memiliki teman dekat di usia tua / freepik

JawaPos.com - Memasuki usia 60-an sering kali diharapkan menjadi fase kehidupan yang penuh ketenangan, kebijaksanaan, dan hubungan sosial yang hangat. Namun, tidak semua orang mengalami hal tersebut. Ada sebagian individu yang mencapai usia lanjut tanpa memiliki teman dekat—bukan sekadar kenalan, tetapi seseorang yang benar-benar dipercaya, diajak berbagi, dan hadir secara emosional.

Fenomena ini bukan sekadar soal “tidak beruntung dalam pertemanan”, melainkan sering kali berkaitan dengan pola kepribadian yang terbentuk selama bertahun-tahun. Psikologi menunjukkan bahwa cara seseorang berpikir, merasakan, dan berinteraksi memiliki pengaruh besar terhadap kualitas hubungan sosialnya, terutama dalam jangka panjang.

Dilansir dari Expert Editor pada Jumat (27/3), terdapat tujuh kepribadian yang sering ditemukan pada orang yang mencapai usia 60-an tanpa teman dekat:

1. Terlalu Mandiri (Overly Self-Reliant)

Kemandirian adalah kualitas yang baik, tetapi jika berlebihan, bisa menjadi penghalang hubungan sosial. Orang dengan kepribadian ini cenderung merasa tidak membutuhkan orang lain. Mereka terbiasa menyelesaikan masalah sendiri dan jarang meminta bantuan.

Dalam jangka panjang, sikap ini membuat orang lain merasa tidak dibutuhkan atau sulit untuk “masuk” ke dalam kehidupan mereka. Akibatnya, hubungan yang terbentuk hanya bersifat dangkal.

2. Sulit Percaya pada Orang Lain

Beberapa orang membawa pengalaman masa lalu—seperti pengkhianatan atau kekecewaan—yang membuat mereka sangat berhati-hati. Mereka membangun “tembok emosional” yang tinggi.

Meskipun ini bisa melindungi dari rasa sakit, efek sampingnya adalah sulitnya membangun kedekatan. Tanpa kepercayaan, hubungan tidak pernah berkembang menjadi persahabatan yang mendalam.

3. Perfeksionis dalam Hubungan

Orang dengan kecenderungan perfeksionis sering memiliki standar yang sangat tinggi terhadap orang lain. Mereka mungkin mengharapkan teman yang selalu memahami, tidak pernah mengecewakan, dan selalu sejalan dengan mereka.

Masalahnya, tidak ada manusia yang sempurna. Akibatnya, mereka sering merasa kecewa dan menjauh, sehingga sulit mempertahankan hubungan jangka panjang.

4. Kurang Keterampilan Sosial

Tidak semua orang tumbuh dengan kemampuan komunikasi yang baik. Beberapa mungkin kesulitan memulai percakapan, membaca emosi orang lain, atau menjaga interaksi tetap nyaman.

Hal ini bisa membuat mereka tampak dingin, canggung, atau tidak tertarik, padahal sebenarnya tidak demikian. Kesalahpahaman ini membuat orang lain enggan mendekat.

5. Terlalu Fokus pada Diri Sendiri

Kepribadian ini sering ditandai dengan dominasi dalam percakapan, kurangnya empati, atau kecenderungan membicarakan diri sendiri tanpa memberi ruang pada orang lain.

Dalam hubungan sosial, keseimbangan sangat penting. Jika seseorang terus-menerus menjadi pusat perhatian, orang lain akan merasa tidak dihargai, sehingga hubungan sulit bertahan.

6. Menghindari Konflik Secara Berlebihan

Beberapa orang sangat tidak nyaman dengan konflik. Mereka cenderung menghindari pembicaraan sulit, menahan perasaan, atau bahkan menjauh saat terjadi masalah.

Padahal, konflik yang sehat justru bisa memperkuat hubungan jika diselesaikan dengan baik. Menghindarinya terus-menerus membuat hubungan menjadi rapuh atau tidak berkembang.

7. Terbiasa Hidup dalam Zona Nyaman yang Sempit

Seiring bertambahnya usia, sebagian orang menjadi semakin tertutup terhadap pengalaman baru. Mereka jarang mencoba hal baru, enggan bertemu orang baru, dan lebih memilih rutinitas yang itu-itu saja.

Akibatnya, kesempatan untuk membangun hubungan baru menjadi sangat terbatas. Lingkaran sosial tidak berkembang, dan akhirnya mereka merasa sendirian.

Apakah Ini Tak Bisa Diubah?

Kabar baiknya: kepribadian bukanlah sesuatu yang sepenuhnya tetap. Meskipun pola ini terbentuk selama puluhan tahun, manusia tetap memiliki kemampuan untuk berubah.

Beberapa langkah kecil yang bisa membantu antara lain:

Mulai membuka diri secara bertahap
Belajar mendengarkan secara aktif
Mencoba aktivitas sosial baru
Menerima bahwa hubungan tidak harus sempurna
Berani membangun kepercayaan sedikit demi sedikit
Penutup

Tidak memiliki teman dekat di usia 60-an bukanlah akhir dari segalanya, tetapi sering kali merupakan refleksi dari pola kepribadian yang terbentuk sepanjang hidup. Memahami pola ini adalah langkah pertama untuk berubah.

Pada akhirnya, manusia adalah makhluk sosial. Tidak peduli berapa usia kita, selalu ada ruang untuk membangun koneksi yang bermakna—selama kita bersedia membuka diri.***
Editor: Setyo Adi Nugroho
Tags
Download Aplikasi JawaPos.com
Download PlaystoreDownload Appstore