
seseorang yang dibesarkan oleh ibu yang terlalu kritis / freepik
JawaPos.com - Pola asuh memiliki pengaruh yang sangat besar terhadap pembentukan kepribadian seseorang. Salah satu pola yang cukup sering dibahas dalam psikologi adalah pola pengasuhan yang terlalu kritis—terutama dari sosok ibu. Kritik yang terus-menerus, meskipun terkadang dimaksudkan untuk “mendidik” atau “memotivasi,” dapat meninggalkan jejak emosional yang mendalam hingga seseorang beranjak dewasa.
Dalam banyak kasus, anak yang tumbuh dengan ibu yang sangat kritis tidak hanya mengembangkan rasa tidak aman, tetapi juga membawa pola perilaku tertentu ke dalam kehidupan dewasa mereka.
Dilansir dari Expert Editor pada Kamis (26/3), terdapat delapan perilaku umum yang sering muncul, berdasarkan pemahaman psikologi.
1. Perfeksionisme Berlebihan
Orang yang dibesarkan oleh ibu yang kritis sering merasa bahwa mereka harus selalu sempurna agar diterima. Kesalahan kecil bisa terasa seperti kegagalan besar.
Perfeksionisme ini bukan sekadar keinginan untuk menjadi baik, tetapi lebih kepada ketakutan akan kritik. Mereka cenderung menetapkan standar yang sangat tinggi dan sulit merasa puas dengan hasil yang dicapai.
2. Takut Gagal Secara Berlebihan
Ketika sejak kecil kesalahan selalu disorot, kegagalan menjadi sesuatu yang menakutkan. Akibatnya, saat dewasa mereka sering:
Menghindari tantangan baru
Ragu mengambil keputusan besar
Terjebak dalam zona nyaman
Bagi mereka, kegagalan bukan sekadar pengalaman belajar, melainkan ancaman terhadap harga diri.
3. Self-Talk Negatif (Dialog Batin yang Keras)
Suara kritik dari ibu sering “menetap” dalam pikiran mereka. Saat dewasa, suara itu berubah menjadi dialog internal yang negatif, seperti:
“Aku tidak cukup baik.”
“Aku pasti salah lagi.”
“Kenapa aku selalu gagal?”
Tanpa disadari, mereka menjadi pengkritik paling keras bagi diri sendiri.
4. Sulit Menerima Pujian
Alih-alih merasa senang saat dipuji, mereka justru merasa tidak nyaman. Mereka mungkin:
Meragukan ketulusan pujian
Menganggap diri tidak pantas
Langsung merendahkan pencapaian sendiri
Hal ini terjadi karena mereka terbiasa fokus pada kekurangan, bukan kelebihan.
5. Sensitif terhadap Kritik
Ironisnya, meskipun terbiasa dikritik sejak kecil, mereka justru menjadi sangat sensitif terhadap kritik saat dewasa.
Kritik kecil bisa terasa seperti serangan besar, karena memicu luka lama. Mereka mungkin menjadi defensif, cemas, atau bahkan menarik diri.
6. Cenderung People-Pleasing
Untuk menghindari kritik, mereka belajar menyenangkan orang lain. Ini berkembang menjadi kebiasaan people-pleasing, seperti:
Sulit berkata “tidak”
Mengutamakan kebutuhan orang lain
Takut mengecewakan orang
Mereka sering mengorbankan diri sendiri demi mendapatkan penerimaan.
7. Kesulitan Mengambil Keputusan
Karena terbiasa dikoreksi atau disalahkan, mereka jadi tidak percaya pada penilaian diri sendiri. Akibatnya:
Mereka sering overthinking
Selalu meminta validasi orang lain
Takut membuat keputusan yang salah
Kepercayaan diri dalam mengambil keputusan menjadi rendah.
8. Kebutuhan Akan Validasi Eksternal
Orang dengan latar belakang ini sering mencari pengakuan dari luar untuk merasa “cukup.” Mereka mungkin:
Sangat bergantung pada opini orang lain
Merasa berharga hanya saat dipuji
Terus mencari persetujuan sosial
Hal ini menunjukkan bahwa rasa harga diri mereka belum sepenuhnya terbentuk dari dalam diri.
Penutup
Penting untuk dipahami bahwa memiliki ibu yang kritis tidak selalu berarti hubungan yang buruk atau niat yang negatif. Banyak orang tua sebenarnya ingin yang terbaik untuk anaknya, tetapi cara penyampaiannya yang kurang tepat dapat berdampak panjang.
Kabar baiknya, pola-pola ini bisa disadari dan diubah. Dengan refleksi diri, terapi, atau pengembangan emosional, seseorang dapat membangun kembali rasa percaya diri dan pola pikir yang lebih sehat.
