
seseorang yang diam ketika terluka. (Freepik/krakenimages.com)
JawaPos.com - Dalam kehidupan sehari-hari, kita sering menemukan orang yang ketika disakiti justru memilih diam. Mereka tidak berteriak, tidak marah, bahkan tidak menunjukkan emosi yang jelas. Dari luar mereka terlihat kuat, tenang, atau “baik-baik saja”. Namun menurut psikologi, diam bukan selalu tanda bahwa seseorang tidak terluka. Justru sering kali diam adalah mekanisme perlindungan yang terbentuk sejak masa kecil.
Banyak penelitian dalam bidang Psikologi perkembangan menunjukkan bahwa cara seseorang mengekspresikan emosi saat dewasa sangat dipengaruhi oleh pengalaman masa kecil. Anak yang tumbuh dalam lingkungan tertentu akan mengembangkan cara khusus untuk melindungi diri secara emosional. Salah satu bentuknya adalah belajar untuk menahan perasaan dan memilih diam saat terluka.
Dilansir dari Silicon Canals, terdapat enam pengalaman masa kecil yang sering dimiliki oleh orang-orang yang memilih diam ketika mereka disakiti.
1. Tumbuh di Lingkungan yang Tidak Mengizinkan Ekspresi Emosi
Sebagian orang dibesarkan dalam keluarga yang tidak nyaman dengan ekspresi emosi. Ketika mereka menangis, marah, atau sedih, respons yang mereka terima mungkin seperti:
“Jangan cengeng.”
“Tidak perlu drama.”
“Diam saja.”
