Logo JawaPos
Author avatar - Image
03 April 2026, 21.19 WIB

Austria Tolak AS Gunakan Wilayah Udaranya untuk Serang Iran, Tegaskan Netralitas di Tengah Ketegangan Global

Ilustrasi Austria larang AS gunakan wilayah udaranya untuk perang dengan Iran. (Dunya News). - Image

Ilustrasi Austria larang AS gunakan wilayah udaranya untuk perang dengan Iran. (Dunya News).

JawaPos.com - Pemerintah Austria secara tegas menolak permintaan Amerika Serikat untuk menggunakan wilayah udaranya dalam operasi militer yang menargetkan Iran. Keputusan ini menambah daftar negara Eropa yang enggan terlibat dalam eskalasi konflik di kawasan Timur Tengah.

Kementerian Pertahanan Austria mengkonfirmasi bahwa pihaknya telah menerima beberapa permintaan dari Washington terkait penggunaan wilayah udara untuk operasi militer. Namun, seluruh permintaan tersebut ditolak.

“Keputusan ini sejalan dengan kebijakan netralitas Austria yang telah lama dijaga,” demikian pernyataan resmi pemerintah di Wina.

Mengutip Dunya News, pihak kementerian menegaskan bahwa menjaga netralitas merupakan prinsip utama dalam kebijakan luar negeri dan pertahanan Austria. Memberikan akses militer kepada negara lain untuk menyerang pihak ketiga dinilai bertentangan langsung dengan prinsip tersebut.

Langkah Austria ini mencerminkan sikap serupa dari sejumlah negara Eropa lainnya. Sebelumnya, Prancis, Spanyol, dan Italia juga dilaporkan menolak permintaan Amerika Serikat untuk menggunakan wilayah udara mereka dalam potensi serangan terhadap Iran.

Di tengah situasi yang memanas, Presiden Prancis Emmanuel Macron turut menyuarakan keraguan terhadap pendekatan militer. Ia menilai opsi penggunaan kekuatan untuk membuka jalur pelayaran di Selat Hormuz bukanlah langkah realistis.

“Beberapa pihak mendorong pembebasan Selat Hormuz melalui operasi militer, posisi yang kadang disuarakan Amerika Serikat, meskipun tidak konsisten,” ujar Macron kepada wartawan saat kunjungan ke Korea Selatan.

Menurut Macron, pendekatan tersebut tidak hanya sulit direalisasikan, tetapi juga berisiko tinggi. “Itu akan memakan waktu sangat lama dan membahayakan semua pihak yang melintasi selat, baik dari ancaman penjaga revolusi maupun rudal balistik,” tegasnya.

Sebelumnya, Presiden AS Donald Trump sempat mendorong sekutu-sekutunya untuk ikut berperan dalam membuka kembali Selat Hormuz, jalur vital bagi perdagangan energi global.

Penolakan beruntun dari negara-negara Eropa ini memperlihatkan adanya kehati-hatian dalam merespons ketegangan antara Amerika Serikat dan Iran. Sikap tersebut sekaligus menegaskan keengganan mereka untuk terseret dalam konflik militer terbuka yang berpotensi meluas.

Editor: Dony Lesmana Eko Putra
Tags
Download Aplikasi JawaPos.com
Download PlaystoreDownload Appstore