
Personel United Nations Interim Force in Lebanon (UNIFIL) melintas di dekat pos militer Lebanon di Naqoura, Lebanon selatan, 27 Maret (Al Jazeera)
JawaPos.com – Israel membantah tudingan menjadi dalang penyerangan di pos The UN Interim Force in Lebanon (UNIFIL), Lebanon Selatan yang menewaskan tiga peacekeeper dan melukai sejumlah pasukan lainnya.
Hal ini disampaikan oleh Perwakilan Permanen Israel untuk PBB Danny Danon dalam Sidang Darurat Dewan Keamanan PBB (DK PBB) mengenai situasi Lebanon, pada Selasa (31/3).
Sidang darurat ini diselenggarakan atas desakan Indonesia bersama Prancis, sebagai wujud komitmen panjang Indonesia terhadap operasi perdamaian PBB.
Meski menyampaikan ucapan belasungkawa, sejak awal Danon sudah dalam posisi defensif sambil menyalahkan Hizbullah.
Dia mengklaim kelompok Hizbullah yang bertanggung jawab atas serangan terhadap pasukan UNIFIL, yang telah menewaskan tiga prajurit TNI.
Dia menyebut, pasukan UNIFIL terkena alat peledak Hizbullah dalam sebuah insiden di dekat Bani Hayyan.
Selain itu, penembakan terhadap posisi UNIFIL di dekat Adchit al-Qusayr pada tanggal 29 Maret, yang menyebabkan gugurnya penjaga perdamaian UNIFIL secara tragis, juga dituding dilakukan oleh kelompok tersebut.
“IDF (Pasukan Pertahanan Israel) tidak melepaskan tembakan di sekitar lokasi tersebut. Situasinya sangat kompleks. Keadaan berubah dengan sangat cepat dan berbahaya,” ujarnya disimak dari UN web TV.
Menurut dia, pihaknya tidak menginginkan eskalasi tersebut. Justru Hizbullah yang memulai dengan menembaki pasukan Israel dengan alasan membalas kematian pemimpin tertinggi Iran.
“Hizbullah telah melakukan serangan terkoordinasi terhadap warga sipil Israel atas arahan dari Teheran. Lebih dari 5.000 roket, rudal, dan drone telah ditembakkan kepada rakyat kami. Banyak dari serangan ini diluncurkan dari daerah selatan Sungai Litani,“ jelasnya.
