
Polisi berbicara dengan pasangan yang membawa peta kertas, menyoroti terbatasnya akses navigasi digital. / Foto: (The Guardian)
JawaPos.com — Rusia dilaporkan semakin mengarah pada pemisahan ekosistem internet domestiknya dari jaringan global melalui serangkaian pembatasan bertahap yang dinilai kian sistematis. Para analis melihat kebijakan ini sebagai bagian dari strategi kontrol digital yang berpotensi membatasi akses jutaan warga terhadap arus informasi internasional.
Perkembangan tersebut tidak terjadi secara tiba-tiba, melainkan melalui langkah parsial yang semakin meluas. Dalam beberapa bulan terakhir, pemadaman internet seluler terjadi di berbagai kota dan wilayah, disertai pembatasan jenis lalu lintas data tertentu serta gangguan terhadap layanan komunikasi utama seperti Telegram yang selama ini menjadi fondasi komunikasi sehari-hari masyarakat Rusia.
Dilansir dari The Guardian, Rabu (1/4/2026), para aktivis dan pakar menilai proses ini sebagai upaya “besar namun bergerak lambat” yang berlangsung secara tidak transparan. Berbeda dengan penutupan internet di Iran yang dilakukan secara langsung dan menyeluruh, pendekatan Rusia dinilai lebih terfragmentasi dan sulit diidentifikasi secara kasatmata.
Presiden Ukraina, Volodymyr Zelenskyy, turut mengkritik kebijakan tersebut dengan nada tajam. Dia menyatakan, “Ini adalah langkah mundur—langkah mundur 100 tahun. Mereka mungkin juga akan segera beralih ke surat kertas, telegraf, dan kuda,” tulisnya di platform X, menggambarkan potensi kemunduran dalam akses komunikasi modern.
Lebih jauh, peneliti dari Open Observatory of Network Interference, Arturo Filastò, menyoroti kompleksitas pendekatan Rusia. Dia menjelaskan, “Penutupan akses internet Rusia jauh lebih tidak transparan dan kurang terlihat,” seraya menambahkan bahwa struktur jaringannya yang lebih terdesentralisasi—dengan banyak penyedia layanan internet yang beroperasi secara relatif independen—membuat penerapan sensor berskala luas menjadi lebih sulit, namun tidak mustahil.
Data OONI menunjukkan bahwa sejak 20 Maret, gangguan terhadap Telegram meningkat signifikan. Pengujian pada lebih dari 500 jaringan mengindikasikan adanya interferensi luas terhadap layanan tersebut. Keluhan publik pun mulai bermunculan. Seorang pengguna internet Rusia dalam siaran televisi Belarusia bahkan menyindir kondisi tersebut dengan mengatakan, “Saya akan beralih ke pos merpati. Saya membayar internet dan merasa dirampok setiap bulan. Mereka hanya mengambil uang saya dan saya tidak bisa menikmati manfaat internet bagi peradaban!”
Sementara itu, analis dari Amnezia VPN mencatat bahwa pendekatan sensor kini berubah drastis. Mereka menyebut, “Sensor kini memblokir secara lebih kasar dan dalam skala jauh lebih besar, tanpa lagi khawatir sesuatu bisa rusak atau lepas kendali,” menandakan peningkatan kapasitas teknis sekaligus perubahan pendekatan kebijakan.
Tak hanya itu, tekanan terhadap ruang digital diperkirakan akan terus meningkat. Otoritas Rusia disebut tengah mengarah pada pemblokiran penuh Telegram pada awal April. Sebelumnya, pejabat Rostelecom menyatakan bahwa WhatsApp “sudah mati” dan Telegram akan segera menyusul. Kedua layanan tersebut direncanakan digantikan oleh platform pesan domestik bernama Max yang berada di bawah kendali pemerintah.
Di sisi lain, pemerintah juga menerapkan sistem akses terbatas yang hanya mengizinkan pengguna membuka situs-situs yang telah disetujui. Bahkan, pusat kota Moskwa sempat mengalami pemadaman total internet seluler, yang berdampak langsung pada terganggunya layanan perbankan hingga komunikasi dasar masyarakat.
Dampak kebijakan ini mulai terlihat dalam aktivitas pasar. Pengecer di Rusia melaporkan peningkatan penjualan perangkat seperti pager, peta kertas, dan telepon seluler sederhana, mencerminkan upaya masyarakat beradaptasi dengan keterbatasan akses digital yang semakin ketat.
