Logo JawaPos
Author avatar - Image
01 April 2026, 00.00 WIB

Krisis Selat Hormuz Picu Guncangan Energi Asia: Batu Bara Bangkit, Nuklir Dipercepat, dan Arah Baru Ekonomi Global

Sebuah truk memuat batu bara di terminal Sungai Yangtze, Nanjing, Provinsi Jiangsu, Tiongkok timur, 22 Maret 2026. Foto: (Fortune) - Image

Sebuah truk memuat batu bara di terminal Sungai Yangtze, Nanjing, Provinsi Jiangsu, Tiongkok timur, 22 Maret 2026. Foto: (Fortune)

JawaPos.com — Penutupan efektif Selat Hormuz akibat perang Iran selama lima pekan terakhir memicu guncangan besar terhadap sistem energi Asia. Jalur sempit yang mengalirkan sekitar 20 persen minyak dan gas alam cair dunia itu menjadi titik krusial bagi kawasan yang menyerap lebih dari 80 persen pasokannya. Dampaknya berlangsung cepat: kelangkaan bahan bakar, pembatasan ekspor, hingga tekanan berat terhadap anggaran negara.

Kondisi tersebut memaksa pemerintah di Asia mengambil langkah ekstrem untuk menjaga stabilitas energi. Dalam jangka pendek, batu bara kembali diandalkan untuk menjaga pasokan listrik. Namun, di saat yang sama, krisis ini juga mendorong percepatan agenda jangka panjang seperti pengembangan energi nuklir dan adopsi kendaraan listrik.

Dilansir dari Fortune, Selasa (31/3/2026), tekanan krisis terlihat nyata di Korea Selatan. Pemerintah meminta warga “mengurangi durasi mandi, mengisi daya perangkat di luar jam sibuk, dan memindahkan penggunaan alat berenergi tinggi ke akhir pekan.” Bahkan, perusahaan besar seperti Samsung membatasi penggunaan kendaraan pribadi karyawan berdasarkan angka pelat nomor. 

Sementara itu, tekanan serupa dengan cepat menjalar ke Asia Tenggara, di mana kebijakan penghematan energi juga diterapkan secara luas. Thailand memberlakukan empat hari kerja bagi aparatur sipil dan menaikkan suhu pendingin ruangan kantor. Vietnam menghentikan sejumlah rute penerbangan domestik karena kekhawatiran terhadap pasokan bahan bakar jet. Adapun Filipina menghadapi situasi paling genting, setelah Presiden Ferdinand Marcos Jr. menetapkan darurat energi nasional akibat “ancaman yang segera terjadi” terhadap pasokan bahan bakar.

Tekanan tidak hanya terjadi pada sisi pasokan, tetapi juga fiskal. Subsidi energi Malaysia melonjak dari 700 juta ringgit menjadi lebih dari 3,2 miliar ringgit (sekitar Rp13,4 triliun, dengan kurs Rp4.210 per ringgit), dan berpotensi mencapai 24 miliar ringgit (sekitar Rp101 triliun) jika harga minyak bertahan di atas 110 dolar AS per barel. Untuk menekan beban, pemerintah memangkas kuota subsidi bahan bakar hingga sepertiga. Lonjakan ini mencerminkan tekanan anggaran yang mulai merata di berbagai negara Asia akibat kenaikan harga energi global.

Dalam konteks tekanan tersebut, negara-negara di kawasan bergerak cepat menyesuaikan komposisi energinya, terutama dengan kembali mengandalkan batu bara sebagai solusi jangka pendek. Thailand menghidupkan kembali pembangkit yang sebelumnya dihentikan, sementara Jepang dan Korea Selatan melonggarkan batas operasi pembangkit batu bara. Seiring dengan langkah tersebut, dinamika pasokan regional turut dipengaruhi oleh kebijakan produsen utama, termasuk Indonesia.

Analis Rystad Energy, Vicky Janita, mengingatkan, “Indonesia memprioritaskan konsumsi batu bara domestik dibanding ekspor, yang memperketat pasokan bagi importir Asia.” Namun demikian, di balik respons jangka pendek tersebut, risiko jangka panjang mulai mencuat dan menjadi perhatian serius. 

Sharon Seah dari ISEAS–Yusof Ishak Institute menegaskan, “Ada bahaya penguncian karbon jangka panjang ketika negara membatalkan rencana pensiun pembangkit batu bara tua.” Akibatnya, keputusan darurat yang diambil saat ini berpotensi memperlambat transisi energi bersih di masa depan.

Di sisi lain, krisis ini justru mempercepat kebangkitan energi nuklir di Asia. Vietnam merampungkan kesepakatan pembangunan pembangkit nuklir pertamanya bersama Rusia. Taiwan berencana mengaktifkan kembali reaktor yang telah ditutup, sementara Filipina menargetkan pengoperasian energi nuklir pada 2032. Malaysia juga mulai mempertimbangkan opsi ini untuk mendukung pertumbuhan industri pusat data.

Meski demikian, transisi energi di kawasan diperkirakan tidak akan berlangsung mulus. Li-Chen Sim dari Middle East Institute menyatakan, “Dalam setiap krisis minyak, reaksi spontan adalah beralih ke energi non-fosil, tetapi itu cepat dilupakan ketika krisis mereda.” Dia menambahkan bahwa ketergantungan industri terhadap bahan bakar fosil masih sangat kuat.

Editor: Setyo Adi Nugroho
Tags
Download Aplikasi JawaPos.com
Download PlaystoreDownload Appstore