Logo JawaPos
Author avatar - Image
27 Maret 2026, 14.56 WIB

OpenAI Hentikan Sora Secara Mendadak, Sinyal Pergeseran Strategi AI di Tengah Tekanan Moderasi dan Regulasi Global

Sam Altman, CEO OpenAI. (The Guardian) - Image

Sam Altman, CEO OpenAI. (The Guardian)

JawaPos.com — Ketika video berbasis kecerdasan buatan mulai membanjiri ruang digital—dari adegan hiper-realistis hingga kreasi absurd yang sulit dibedakan dari kenyataan—Sora muncul sebagai simbol lompatan terbaru industri teknologi. Namun di balik euforia tersebut, OpenAI justru memilih menghentikan layanan itu, hanya beberapa bulan setelah membawanya ke arus utama.

Penghentian ini, dalam konteks yang lebih luas, menandai perubahan arah strategis perusahaan di tengah meningkatnya tekanan terhadap pengelolaan konten berbasis AI. Sebelumnya, Sora diposisikan sebagai simbol ambisi OpenAI untuk mendominasi pasar kreatif digital, bersaing dalam ekosistem teknologi global yang juga digerakkan oleh tokoh-tokoh seperti Elon Musk hingga Mark Zuckerberg.

Dalam pernyataan resmi yang dikutip The Guardian, Kamis (26/3/2026), OpenAI menyampaikan pesan langsung kepada komunitas penggunanya. “Kepada semua yang telah berkarya dengan Sora, membagikannya, dan membangun komunitas di sekitarnya: terima kasih,” tulis perusahaan. Mereka menambahkan, “Apa yang Anda ciptakan dengan Sora sangat berarti, dan kami tahu kabar ini mengecewakan.”

Jika ditarik ke belakang, keputusan tersebut terasa kontras dengan langkah agresif perusahaan sebelumnya. Sora pertama kali diperkenalkan ke publik pada akhir 2024, namun lonjakan popularitasnya baru benar-benar terjadi setelah peluncuran Sora 2 dan aplikasi mandiri pada September 2025. Tak lama kemudian, aplikasi tersebut langsung menduduki posisi puncak di App Store Apple, mencerminkan tingginya antusiasme pasar terhadap teknologi video berbasis AI.

Di sisi lain, popularitas tersebut juga membawa konsekuensi serius. Beragam konten kontroversial muncul, mulai dari video absurd seperti mendiang Putri Diana melakukan parkour hingga anjing yang mengemudi mobil. Tak berhenti di situ, penggunaan Sora juga memunculkan persoalan serius, mulai dari beredarnya konten kekerasan dan rasisme hingga praktik deepfake yang berpotensi menyesatkan publik.

Dalam konteks itulah, kritik tajam mulai bermunculan dari kalangan analis. CEO Alon Yamin dari Copyleaks menyebut, “Sora secara diam-diam menjadi mimpi buruk dalam moderasi konten.” Dia memperingatkan bahwa persoalan tidak berhenti di sini. “Deepfake berbahaya dan media manipulatif hanya akan berpindah ke platform yang lebih tertutup dan sulit diaudit,” ujarnya.

Ironisnya, sehari sebelum pengumuman penutupan, OpenAI justru merilis blog berjudul “Creating with Sora safely” yang menjelaskan upaya peningkatan keamanan platform, termasuk perlindungan bagi remaja dan pembatasan terhadap konten berbahaya seperti materi seksual, propaganda terorisme, serta promosi tindakan menyakiti diri sendiri.

Selanjutnya, implikasi bisnis dari keputusan ini juga signifikan. Hanya tiga bulan sebelumnya, OpenAI menandatangani kerja sama tiga tahun dengan The Walt Disney Company yang memungkinkan pengguna Sora membuat video menggunakan lebih dari 200 karakter berlisensi dari Marvel, Pixar, dan Star Wars. Kini, kerja sama tersebut resmi dihentikan.

Dalam pernyataannya kepada The Guardian, perwakilan Disney menyatakan, “Seiring pesatnya perkembangan bidang AI yang masih baru, kami menghormati keputusan OpenAI untuk keluar dari bisnis pembuatan video dan mengalihkan prioritasnya ke area lain.” Mereka menambahkan, “Kami menghargai kolaborasi konstruktif antara tim kami dan akan terus menjajaki platform AI lain untuk menjangkau penggemar secara bertanggung jawab.”

Editor: Novia Tri Astuti
Tags
Download Aplikasi JawaPos.com
Download PlaystoreDownload Appstore