Logo JawaPos
Author avatar - Image
24 Maret 2026, 22.10 WIB

Berbeda dari Musk dan Zuckerberg, CEO Pinterest Desak Larangan Global Media Sosial bagi Remaja di Bawah 16 Tahun

Bill Ready, CEO Pinterest, saat berada di Beverly Hills, California, 5 Mei 2025 (The Guardian) - Image

Bill Ready, CEO Pinterest, saat berada di Beverly Hills, California, 5 Mei 2025 (The Guardian)

JawaPos.com - Tekanan terhadap raksasa teknologi global kian menguat seiring meningkatnya kekhawatiran atas dampak media sosial terhadap kesehatan mental remaja. Di tengah regulasi yang semakin ketat ini, CEO Pinterest, Bill Ready, mengambil posisi yang tidak lazim dengan mendorong larangan global penggunaan media sosial bagi pengguna di bawah usia 16 tahun.

Pernyataan itu disampaikan melalui platform profesional LinkedIn, menandai pergeseran wacana dari sekadar penguatan fitur keamanan menuju pembatasan struktural berbasis regulasi. Langkah ini muncul ketika perusahaan teknologi besar menghadapi tekanan simultan dari regulator, pengadilan, dan pembuat kebijakan di berbagai negara.

Dilansir dari The Guardian, Selasa (24/3/2026), sikap itu mencerminkan penilaian Ready bahwa pendekatan industri saat ini belum cukup melindungi remaja dari risiko penggunaan media sosial. Ready menegaskan, "Kita membutuhkan standar yang jelas: tidak ada media sosial untuk remaja di bawah 16 tahun, yang disertai penegakan aturan yang tegas dan konsisten, serta akuntabilitas bagi sistem operasi ponsel dan aplikasi yang menjadi ekosistemnya."

Selain itu, dia menunjuk kebijakan di Australia sebagai rujukan awal. Negara tersebut telah menerapkan pembatasan usia untuk akses media sosial. Namun, kebijakan itu tidak sepenuhnya mencakup Pinterest, yang masih memungkinkan pengguna di bawah 16 tahun memiliki akun, sebuah celah regulasi yang secara tidak langsung memberi keunggulan kompetitif dibanding pesaing seperti Instagram.

Di saat yang sama, dinamika hukum mempertegas urgensi isu ini. Di Los Angeles, persidangan tengah berlangsung terkait penggunaan media sosial oleh anak dan remaja. Dalam perkara tersebut, Google dan Meta menghadapi tuduhan serius bahwa produk mereka dirancang untuk menciptakan ketergantungan pada pengguna usia muda serta memperburuk krisis kesehatan mental.

Dalam konteks ini, sikap Ready menjadi kontras. Berbeda dengan pendekatan sebagian pemimpin industri yang cenderung mendukung pengawasan orang tua dan verifikasi usia, dia justru mendorong larangan langsung. Ini mencerminkan pergeseran strategi—dari mitigasi risiko menuju redefinisi batas penggunaan.

Namun demikian, dorongan tersebut tidak dapat dilepaskan dari kepentingan bisnis. Dalam beberapa tahun terakhir, Pinterest berupaya memperkuat posisinya di kalangan generasi Z, kelompok usia yang menjadi kunci pertumbuhan platform digital. Data Apptopia menunjukkan sekitar sepertiga pengguna Pinterest berada pada rentang usia 17 hingga 25 tahun.

Di sisi lain, kinerja keuangan perusahaan yang belum memenuhi ekspektasi pasar turut menambah tekanan internal. Dalam situasi ini, positioning sebagai platform yang lebih "aman" dapat menjadi diferensiasi strategis di tengah meningkatnya sorotan terhadap dampak negatif media sosial.

Lebih luas lagi, perdebatan ini mencerminkan perubahan arah industri teknologi global. Jika sebelumnya inovasi dan pertumbuhan menjadi prioritas utama, kini isu tanggung jawab sosial dan perlindungan pengguna muda mulai mendominasi agenda kebijakan.

Dalam konteks tersebut, usulan larangan ini membuka babak baru dalam hubungan antara perusahaan teknologi dan regulator. Bukan hanya soal apakah pembatasan akan diterapkan, melainkan bagaimana keseimbangan antara pertumbuhan industri dan perlindungan generasi muda akan ditentukan di tingkat global.

Editor: Candra Mega Sari
Tags
Download Aplikasi JawaPos.com
Download PlaystoreDownload Appstore