
Elon Musk, pendiri dan CEO xAI. Foto: (The Guardian)
JawaPos.com — Ambisi global para miliarder teknologi dalam perlombaan kecerdasan buatan kembali memicu perdebatan publik. Perusahaan kecerdasan buatan milik Elon Musk, xAI, memperoleh izin untuk mengoperasikan puluhan turbin gas metana guna memasok listrik bagi pusat data raksasanya di negara bagian Mississippi, Amerika Serikat, meskipun keputusan tersebut menuai penolakan dari warga dan kelompok aktivis lingkungan.
Persetujuan ini memungkinkan fasilitas pusat data “Colossus 2” di Southaven meningkatkan kapasitas pembangkit sementara hingga 41 turbin gas metana—hampir dua kali lipat dari jumlah yang sebelumnya beroperasi. Energi tersebut digunakan untuk mendukung sistem komputasi berskala besar yang menjalankan berbagai aplikasi kecerdasan buatan perusahaan, termasuk chatbot kontroversial mereka, Grok.
Dilansir dari The Guardian, Rabu (11/3/2026), izin tersebut diberikan oleh Mississippi Department of Environmental Quality (MDEQ). Persetujuan itu muncul di tengah gelombang keberatan masyarakat karena pusat data kecerdasan buatan membutuhkan pasokan listrik dalam jumlah sangat besar, yang sebagian dipenuhi melalui generator berbahan bakar gas fosil.
Penolakan paling keras datang dari kelompok advokasi hak sipil dan lingkungan. Direktur keadilan lingkungan dan iklim dari NAACP, Abre’ Conner, menilai keputusan regulator mengabaikan kekhawatiran masyarakat yang tinggal di sekitar fasilitas tersebut. “Kami sangat marah. MDEQ memilih menerobos keputusan yang pada dasarnya membungkam warga yang paling terdampak oleh kebijakan ini,” ujarnya.
Sejak xAI mulai mengoperasikan Colossus 2 tahun lalu—dengan membawa turbin yang saat itu belum mengantongi izin resmi—sejumlah warga melaporkan gangguan kebisingan serta penurunan kualitas udara. Dalam sesi dengar pendapat publik yang digelar MDEQ di Southaven bulan lalu, ratusan warga memadati ruangan untuk menyampaikan keberatan terhadap ekspansi pusat data tersebut.
Seorang warga Southaven, Nathan Reed, menggambarkan ekspansi proyek itu sebagai lonjakan industri yang datang terlalu cepat bagi komunitas perumahan. “Skala, kecepatan, dan intensitas ekspansi ini tidak pernah dialami wilayah kami sebelumnya,” katanya. Dia menambahkan, “Ini bukan pembangunan bertahap yang direncanakan dengan matang, melainkan lonjakan industri yang dipaksakan ke tengah komunitas perumahan kami.”
Di sisi lain, NAACP telah menggugat xAI terkait dugaan pencemaran dari proyek Colossus 2. Menurut Conner, proses pemberian izin dinilai terlalu terburu-buru dan tidak memberikan ruang konsultasi publik yang memadai. “Sungguh mengejutkan melihat lembaga negara menolak menangani krisis sipil yang tidak perlu ini dan justru memprioritaskan kepentingan perusahaan dibanding keadilan,” ujarnya.
Kekhawatiran tersebut terutama berkaitan dengan emisi dari generator gas yang digunakan untuk menopang operasional pusat data tersebut. Menurut kelompok lingkungan, generator itu menghasilkan partikel halus yang mengandung zat berbahaya seperti formaldehida dan nitrogen oksida—polutan yang berkaitan dengan peningkatan risiko asma, penyakit pernapasan, serangan jantung, hingga beberapa jenis kanker.
Sementara itu, organisasi advokasi lingkungan Southern Environmental Law Center menilai jumlah turbin yang dioperasikan di Southaven berpotensi menjadikan Colossus 2 sebagai salah satu pembangkit listrik berbahan bakar fosil terbesar di Mississippi.
“Regulator negara bagian tampaknya lebih tertarik mempercepat pembangunan pembangkit listrik pribadi milik xAI daripada melakukan peninjauan menyeluruh atas dampaknya serta berdialog secara bermakna dengan keluarga yang harus hidup di dekat fasilitas kotor ini,” kata pengacara senior organisasi tersebut, Patrick Anderson.
Pada akhirnya, ekspansi infrastruktur kecerdasan buatan milik xAI terus berlanjut meski menuai kritik. Setelah membangun pusat data raksasa “Colossus” di Memphis pada 2024, perusahaan milik Elon Musk itu kini juga mengembangkan pusat data ketiga di Southaven dengan nama proyek “Macrohardrr”.
Perkembangan ini menegaskan besarnya kebutuhan energi di balik perlombaan global teknologi kecerdasan buatan, yang oleh kelompok lingkungan dinilai berisiko memperburuk tekanan terhadap komunitas lokal.
