
Jati di lahan Perhutani Kendal, Jateng, ditanam pada 1891. (Istimewa)
Hutan jati Jawa adalah salah satu hutan tropis yang paling teratur pengelolaannya di dunia.
***
"Het zal èn het uitdrogen der bronnen, beken en rivieren tijdens den drogen tijd, èn het ontstaan van bandjirs bij hevigen en langdurigen regen belangrijk tegengaan. Een meer gelijkmatige toevoer van irrigatiewater zal daarvan het gevolg zijn, en de schade door bandjirs zal er door verminderen.”
“Hutan tersebut akan membantu mencegah mengeringnya mata air, anak sungai, dan sungai pada musim kemarau, serta mengurangi terjadinya banjir ketika hujan lebat dan berkepanjangan. Akibatnya aliran air irigasi akan menjadi lebih merata dan kerugian akibat banjir akan berkurang.” (Economische studiën en critieken met betrekking tot Java oleh Homan van der Heide, J., Koninklijke Bibliotheek 1901)
Catatan awal abad lalu tentang djaticultuur dan hutan jati sesungguhnya, pelajaran berharga bagi bangsa ini. Kecuali, kita ingin Jawa bernasib buruk. Disadari atau tidak, ekosistem Jawa terabaikan. Jauh hari Belanda susah mengingatkan kepedulian pada hutan. Seperti ini:
“Keberadaan hutan-hutan tersebut juga akan memberikan pengaruh yang sangat baik terhadap iklim, dengan sesekali menimbulkan hujan pada musim kemarau, melindungi dari angin yang mengeringkan, serta mengurangi panas udara, ” lanjutan catatan Homan van der Heide.
Setahu saya tingkat keseriusan kita sebagai bangsa pada hutan memang di bawah garis tengah. Bahkan khusus untuk Jawa, Perhutani nyaris dibiarkan sendirian.
Catatan orang yang sama:
“Bovendien zal bij eene irrigatie met water, dat van eene met bosch begroeide helling afvloeit, grootere vruchtbaarheid worden verkregen dan bij het gebruik daarvoor van water dat van eene met gras begroeide helling naar beneden komt.”
(“Selain itu, jika irigasi menggunakan air yang mengalir dari lereng yang berhutan, kesuburan tanah akan lebih besar dibandingkan bila air tersebut berasal dari lereng yang hanya ditumbuhi rumput.”)
