
Menteri ESDM Bahlil Lahadalia (Istimewa)
JawaPos.com - Eskalasi konflik di Timur Tengah antara Iran melawan Israel-Amerika Serikat (AS) memberikan goncangan tersendiri bagi kebutuhan energi tanah air. Sebab, Indonesia masih memerlukan impor untuk memenuhi kebutuhan dalam negeri.
Menteri Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM), Bahlil Lahadalia, menegaskan bahwa bahan bakar minyak (BBM) jenis bensin masih mengalami ketergantungan akan impor dengan angka 50 persen, meskipun sebagian telah bisa dipenuhi oleh produksi dalam negeri.
“BBM berbentuk bensin sebagian 50 persen kita masih impor, sebagian kita dalam negeri, tetapi kita sudah mencari alternatif-alternatifnya termasuk crude-nya,” kata Bahlil di Jawa Tengah, Kamis (26/3).
Sementara itu, kebutuhan impor akan LPG untuk memenuhi kebutuhan dalam negeri juga signifikan dengan angka sekitar 70 persen. Meski begitu, Bahlil yakin kondisi ini akan teratasi.
“LPG kita masih impor kurang lebih sekitar 70 persen dari total kebutuhan kita. Tapi saya yakinkan kepada Bapak/Ibu semua, insyaAllah kita juga dalam kondisi yang sampai dengan beberapa hari itu insyaAllah dalam kondisi yang baik,” jelasnya.
Di sisi lain, ia meminta dukungan dari masyarakat Indonesia untuk menggunakan energi dengan bijak dan hemat. Contohnya yakni penghematan saat menggunakan LPG untuk memasak agar gas tidak boros.
“Contoh katakanlah kalau masak pakai LPG, kalau masakannya udah masak jangan kompornya boros. Karena ini kita harus betul-betul meminta bantuan rakyat untuk kita bersama-sama dalam memakai energi yang bijaksana. Kalau ini mampu kita lakukan bersama-sama, insyaallah energi kita ke depan akan semakin baik,” tukas dia.
Di sisi lain, ia menegaskan bahwa pemerintah akan mencari sumber minyak dari sejumlah negara demi pasokan energi dalam negeri tetap stabil. Langkah ini sendiri merupakan arahan langsung dari Presiden Prabowo Subianto.
