
Policy and Program Director Prasasti Piter Abdullah (kiri), Nila Marita, Executive Director Prasasti (dua dari kiri), Research Director Prasasti Gundy Cahyadi (kanan). (Suryowati/JawaPos.com)
JawaPos.com - Meningkatnya ketegangan geopolitik di kawasan Timur Tengah dalam beberapa pekan terakhir kembali memicu kekhawatiran di pasar global. Situasi ini mendorong kenaikan harga minyak dunia sekaligus menambah ketidakpastian terhadap stabilitas jalur perdagangan energi internasional.
Lembaga riset kebijakan Prasasti Center for Policy Studies (Prasasti) menilai eskalasi konflik tersebut berpotensi menjadi sumber tekanan eksternal baru bagi perekonomian Indonesia pada 2026. Dampaknya dapat dirasakan melalui beberapa kanal utama, seperti lonjakan harga energi, pergerakan nilai tukar rupiah, hingga stabilitas fiskal pemerintah.
Konflik yang melibatkan Iran, Israel, dan Amerika Serikat juga meningkatkan risiko gangguan pada Selat Hormuz, salah satu jalur pelayaran energi paling penting di dunia. Sekitar 20-30 persen perdagangan minyak global melewati selat tersebut.
Jika jalur ini terganggu, pasokan energi dunia berpotensi mengalami guncangan yang dapat memicu lonjakan harga minyak mentah dan meningkatkan volatilitas pasar energi.
Policy and Program Director Prasasti Piter Abdullah menilai salah satu titik lemah Indonesia dalam situasi seperti ini adalah keterbatasan cadangan energi strategis nasional.
“Ketika konflik geopolitik terjadi di kawasan yang menjadi jalur utama perdagangan energi dunia, negara-negara pengimpor seperti Indonesia harus lebih waspada. Cadangan energi yang terbatas membuat ruang manuver kebijakan menjadi lebih sempit apabila terjadi gangguan pasokan global,” ujar Piter di Jakarta, Kamis (12/3).
Cadangan minyak strategis Indonesia saat ini diperkirakan hanya mampu memenuhi kebutuhan sekitar 23-26 hari. Angka tersebut masih jauh dari rekomendasi International Energy Agency (IEA) yang menyarankan cadangan setara sekitar 90 hari impor bersih. Dalam kondisi normal, keterbatasan ini mungkin tidak terlalu terlihat, namun dalam situasi potensi gangguan pasokan global, kondisi tersebut dapat meningkatkan risiko terhadap ketahanan energi nasional.
“Lonjakan harga minyak juga berpotensi memberikan tekanan terhadap stabilitas nilai tukar rupiah. Harga energi yang lebih tinggi biasanya meningkatkan kebutuhan impor energi, yang pada gilirannya dapat memperbesar tekanan terhadap neraca eksternal,” ujarnya.
Piter menjelaskan bahwa ketidakpastian global yang meningkat biasanya mendorong investor internasional memindahkan portofolio mereka ke aset yang dinilai lebih aman. Dalam kondisi tersebut, mata uang negara berkembang, termasuk rupiah, kerap menghadapi volatilitas yang lebih tinggi.
