
Pesawat Garuda Indonesia. (Hanung Hambara/Jawa Pos)
JawaPos.com - Pengamat Penerbangan Alvin Lie meminta Direktorat Jenderal Perhubungan Udara Kementerian Perhubungan untuk segera membuat keputusan di tengah lonjakan harga avtur sebagai dampak dari perang di timur tengah.
Ia menilai, keputusan itu menjadi penting agar kerugian maskapai penerbangan di tengah lonjakan harga avtur tidak semakin membesar. Hitung-hitungannya, per hari maskapai penerbangan bisa rugi mencapai miliaran rupiah.
"Harus ada keputusan (dari Kemenhub). Paling lambat besok (hari ini). Yang kedua, keputusan itu harus segera berlaku," kata Alvin Lie kepada JawaPos.com, dikutip Jumat (3/4).
Permintaan ini juga disampaikan Alvin, mengingat Direktorat Jenderal Perhubungan Udara juga sudah melakukan pembahasan dan diskusi terkait solusi atas kenaikan harga avtur ini. Dari forum yang ia ikuti, bahasannya memang sudah mengarah kepada kenaikan fuel surcharge dan tarif batas atas (TBA).
Tetapi ia menilai, dalam waktu dekat ini yang paling memungkinkan untuk diubah adalah fuel surcharge. Kemudian sembari berjalan, Pemerintah pun terus membahas perihal kenaikan tarif batas atas (TBA).
"Kalau target saya tadi dalam bulan ini, sekaligus dibenahi tarif batas atasnya, sehingga paling lambat akhir bulan ini sudah ada perubahan," jelasnya,
Lebih lanjut, Alvin juga mengusulkan agar kebijakan fuel surcharge maupun tarif batas atas ini dibuat sistematik agar dapat cepat merespons perubahan harga avtur.
"Ketika harga avtur naik, (fuel surcharge) otomatis itu bisa naik sekian persen. Tapi jika ternyata harga minyak dunia turun, harga avtur turun, itu (fuel surcharge) juga segera bisa turun. Jangan ketika naik, kita cepat merespons, ketika harga avtur turun pelan-pelan turunnya," lanjutnya.
Kendati demikian, Alvin Lie mendorong Kemenhub agar kebijakan terkait fuel surcharge dan TBA secara sistem bisa adil bagi konsumen. Dalam arti, jangan kemudian membuka celah bagi maskapai penerbangan untuk mengambil keuntungan yang sebesar-besarnya.
