Logo JawaPos
Author avatar - Image
03 Mei 2022, 22.15 WIB

Duo Bakul Pecel yang Sering Nyambangi Bung Karno di Ndalem Gebang

Photo - Image

Photo

Blitar menyimpan memori kuliner Soekarno, presiden pertama Republik Indonesia. Barangkali, kenangan yang Bung Karno tinggalkan di Kota Patria merupakan yang paling sederhana. Pecel. Hanya pecel. Tapi, pecel pilihan sang proklamator jelas istimewa.

Galih Adi Prasetyo, Blitar

JawaPos.com - Pecel menjadi hidangan yang wajib tersaji jika Bung Karno melawat ke Blitar. Karena itu, setiap kali Putra Sang Fajar itu ke Blitar, pecel selalu ada di Ndalem Gebang. Kini, kediaman orang tua Bung Karno itu lebih dikenal sebagai Istana Gebang. Letaknya di Jalan Sultan Agung.

Membawa pecel ke Ndalem Gebang berarti memboyong penjualnya ke sana. Bakul pecel lengkap dengan dagangannya dihadirkan untuk melayani langsung Bung Karno dan seluruh penghuni rumah. Yang paling sering diundang ke Ndalem Gebang adalah Mbok Pin dan Mbok Rah. Pecel mereka punya cita rasa yang khas. Sayang, Mbok Pin maupun Mbok Rah sudah berpulang. Anak-anak dan cucu mereka juga tidak meneruskan berjualan pecel.

’’Saya memang tidak melihat langsung Mbok Pin melayani di Ndalem Gebang. Saya menikah dengan putra tunggal Mbok Pin, Nuryadi, setelah Pak Karno meninggal. Tapi, saya masih ngonangi Mbok Pin jualan dan dengar ceritanya dari almarhumah langsung,’’ papar Winarni, menantu Mbok Pin, saat ditemui Jawa Pos pada Desember lalu.

Nama asli Mbok Pin adalah Rubiyem. Dia bersuamikan Nur Dipin yang biasa disapa Mbah Pin. Dari sang suamilah nama Mbok Pin berasal. Dulu, perempuan yang tutup usia pada 1986 itu sehari-harinya memang berjualan pecel. Dia menggelar dagangan di teras rumahnya di kawasan Jalan Ahmad Yani, Kota Blitar.

Gang masuk ke rumah Mbok Pin hanya cukup untuk simpangan dua motor. Dari jalan raya, rumah Mbok Pin berjarak sekitar 65 meter. Kini, bekas rumah tinggal itu telah dirombak total. Beralih fungsi menjadi kos-kosan.

Di teras rumahnya, Mbok Pin meletakkan meja bambu kecil di dekat tembok pagar. Di situlah dia berinteraksi dengan pelanggan. Saat itu jalanan di depan rumah Mbok Pin masih tanah. Para pembeli bisa dengan leluasa mencari tempat duduk di sekitar situ untuk bersantap.

Winarni menyebut Mbok Pin sebagai orang yang rapi. Dia selalu menampilkan yang terbaik. Apalagi jika ada undangan untuk menyuguhkan pecel kepada Bung Karno. Dia selalu menyiapkan kebaya baru atau minimal yang terbagus dari yang dia miliki. Kebaya itu dipadankan dengan kain batik atau jarit yang diwiru. Mbok Pin juga selalu menggelung rambutnya ke belakang.

Photo

NDALEM GEBANG: Pusaka dan foto-foto Bung Karno menghiasi ruang tamu di rumah yang selalu menjadi tempat pulang Sang Proklamator saat ke Blitar. (Alfian Rizal/Jawa Pos)

’’Cerita Mbok Pin yang masih saya ingat itu, dia selalu digoda kalau bertemu Pak Presiden karena bajunya baru terus pas ke sana. ’Aku biyen lek’e nang Pak Presiden nganu lo dijawil karo omong klambine anyar yo’,’’ terang Winarni. Pak Karno menyindir Mbok Pin karena selalu memakai kebaya baru saat sowan ke Ndalem Gebang.

Winarni yang kini menetap di kawasan Wlingi, Kabupaten Blitar, menambahkan, Pak Karno dan keluarganya tidak pernah minta yang aneh-aneh kepada Mbok Pin. Sayur yang biasa disajikan adalah taoge pendek, yang umumnya dijadikan campuran rawon. Sayur lainnya adalah bayam dan kacang panjang. Semuanya direbus dan dibikin kulup. Pak Karno tidak menambahkan mentimun dan kemangi pada porsi pecelnya.

Soal lauk-pauk, Pak Karno juga tidak minta dibikinkan khusus. Dia hanya minta agar peyek selalu ada. Mbok Pin selalu menyediakan peyek teri dan kacang.

Saat berangkat ke Ndalem Gebang, Mbah Pin-lah yang membawa pecel dan ubarampe-nya dengan memakai pikulan. Nasi ditaruh di dalam tumbu (wadah dari anyaman bambu). Bumbu pecel dan kulup dalam rantang. Jarak rumah Mbok Pin ke Ndalem Gebang memang tidak jauh, hanya sekitar 400 meter.

Menurut Winarni, Bung Karno tak sungkan duduk lesehan di dekat Mbok Pin. Sambil berbincang, dia memperhatikan kesibukan Mbok Pin menyiapkan pecel. Setelah pincukan lengkap berisi nasi, pecel, dan lauk, maka gantian Bung Karno yang sibuk. Menyantap pecel sambil menggigiti peyek. Jika Bung Karno sedang tidak di Blitar, keluarganya datang ke rumah Mbok Pin untuk menikmati pecel. Yang paling sering adalah kakak Bung Karno, Soekarmini. Dia biasa membeli langsung ke rumah Mbok Pin.

Pecel Mbok Pin memang istimewa. Bumbu kacangnya selalu baru setiap hari. Disiapkan saat sore untuk dijual esok paginya. Proses pembuatannya pun tradisional. Yakni, ditumbuk dalam lumpang batu. Hingga kini, lumpang itu masih tersimpan di rumah Mbok Pin sebagai jejak abadi pecel legendarisnya.

Selain Mbok Pin, anak maupun menantu dan cucunya tidak ada yang melanjutkan usaha nasi pecel. Tapi, itu bukan karena tidak ada yang mau melanjutkan. Melainkan Mbok Pin sendiri yang tidak mau menularkan ilmunya.

’’Sempat ada keponakan yang mau melanjutkan, tapi Mbok Pin benar-benar tidak mau. Mbok Pin lebih memilih berjualan sampai Mbah Pin meninggal sekitar tahun 1982. Saya pun pernah mencoba membuat. Tapi, hasilnya tidak sama, rasanya beda,’’ ungkapnya.

Selain Mbok Pin, ada Mbok Rah yang racikan pecelnya juga istimewa. Perempuan bernama asli Saerah itu tinggal di kawasan Jalan Borobudur, Kelurahan Bendogerit, Kota Blitar. Kini, rumah asli Mbok Rah telah berpindah tangan dan bangunan aslinya sudah tidak ada.

’’Saya tidak nututi pecelnya Mbok Rah. Tapi, saya dengar cerita dari mertua saya, Pak Arjo Slamet. Memang saat Bung Karno datang ke Ndalem Gebang, Mbok Rah dipanggil untuk jualan di sana,’’ ujar cucu menantu Mbok Rah, Tri Setyowati.

Photo

BERSEJARAH: Lumpang batu yang dulu dipakai Mbok Pin untuk membuat bumbu pecel masih disimpan oleh keluarga. (Alfian Rizal/Jawa Pos)

Mbok Rah adalah penjual pecel keliling. Pecel dan kelengkapannya digendong dalam wadah anyaman bambu. Mbok Rah juga membawa meja saji kecil dari sesek dalam gendongannya.

’’Kalau ke Ndalem Gebang juga begitu. Bawa menu lengkap. Nah, kesukaan Bung Karno itu rempeyek teri. Itu selalu jadi permintaan beliau. Makan pecelnya dengan pincuk daun, lalu ambil pecelnya dengan nyuru atau nyendok pakai sobekan daun pisang,’’ ucapnya.

Tri mengakui, rasa pecel Mbok Rah memang unggul. Proses pembuatannya masih di-deplok. Pencampuran bumbu dan kacangnya dilakukan terpisah. Kacang lebih dulu dihaluskan, baru kemudian bumbu. Setelah itu, keduanya di-blend menjadi bumbu pecel siap saji.

’’Kalau resep, sebenarnya sama seperti pecel pada umumnya. Tapi, kata orang Jawa, masak itu cocok-cocokan. Nah, kalau Mbok Rah ini kacangnya disangrai dengan kuali tanah liat, tidak digoreng dengan minyak,’’ tutur Tri.

Saat Mbok Rah datang dan pecelnya diborong Bung Karno, semua orang di Ndalem Gebang makan bersama. Tidak ada batas antara presiden dan abdi dalem. Semua ngumpul dan menikmati menu yang sama. Yang dimakan Bung Karno juga sama dengan yang dimakan para abdi dalem. Hingga kini, tempat yang biasa menjadi lokasi makan bersama itu masih ada di Museum Istana Gebang.

Arjo Slamet, putra Mbok Rah, membenarkan cerita Tri. Lelaki 91 tahun tersebut masih ingat kebiasaan Bung Karno menyantap pecel untuk menu sarapan. Tentunya ketika beliau bertandang ke Ndalem Gebang. ’’Iya, pecel Mbok Rah biasanya untuk sarapan. Lawuh (lauk, Red) peyek. Kalau siang biasanya sayur asem,’’ kata pria yang mengabdi di Ndalem Gebang pada 1957–2009 itu.

Editor: Edy Pramana
Tags
Download Aplikasi JawaPos.com
Download PlaystoreDownload Appstore