Logo JawaPos
Author avatar - Image
16 Januari 2026, 23.12 WIB

Belasan Pelajar Jatim Terpapar Kekerasan Ekstrem, Dindik Perkuat Perlindungan di Ruang Digital

Ilustrasi anak terpapar konten kekerasan ekstrem. (Freepik) - Image

Ilustrasi anak terpapar konten kekerasan ekstrem. (Freepik)

JawaPos.com - Densus 88 Antiteror Polri mengungkap 11 anak di Jawa Timur terpapar ideologi kekerasan ekstrem melalui konten digital. Temuan ini mendapat perhatian serius Dinas Pendidikan (Dindik) Jatim.

Kepala Dinas Pendidikan Provinsi Jawa Timur, Aries Agung Paewai menilai temuan ini menjadi alarm bagi seluruh pemangku kepentingan pendidikan untuk memperkuat sistem pencegahan sejak dini.

Langkah itu harus diperkuat melalui pendekatan edukatif, pengawasan yang ketat, serta kolaborasi lintas peran antara sekolah, keluarga, dan pemerintah. Mengingat anak yang terpapar berada di rentang usia 11 hingga 18 tahun.

“Anak-anak kita hari ini hidup dalam ruang digital yang bergerak sangat cepat. Tanpa literasi dan pengawasan yang tepat, mereka rentan terpapar konten berbahaya yang tidak selalu tampak secara kasat mata,” ujarnya, Jumat (16/1).

Dindik Jawa Timur melakukan berbagai langkah strategis antisipatif untuk melindungi anak-anak dari paparan ideologi kekerasan ekstrem. Salah satunya dengan penguatan Literasi Digital Reflektif di Sekolah.

Program ini mendorong SMA, SMK, dan SLB tidak hanya mengajarkan keterampilan digital teknis, tetapi juga kemampuan berpikir kritis, memahami dampak informasi, serta menahan reaksi emosional terhadap konten provokatif.

"Literasi digital harus menjadi bagian dari pendidikan karakter dan penguatan Profil Pelajar Pancasila, bukan sekadar pelajaran tambahan. Penting untuk membangun kesadaran bahwa tidak semua konten layak dipercaya, disebarkan, atau ditiru," imbuhnya.

Upaya lainnya adalah penguatan peran guru BK dan wali kelas sekolah. Mereka lah garda terdepan ketika anak-anak berada di lingkungan sekolah. Dialog terbuka tentang aktivitas digital siswa bisa menjadi langkah deteksi dini.

"Kami (Dinas Pendidikan) menegaskan bahwa sekolah wajib menciptakan lingkungan aman dari ideologi kekerasan, dengan regulasi penggunaan gawai secara bijak di lingkungan sekolah," seru Aries.

Pengawasan anak tidak boleh berhenti di sekolah. Menurut Aries, kolaborasi aktif dengan orang tua juga memiliki peranan penting. Peran orang tua di rumah dalam pendampingan anak juga tak boleh diremehkan.

“Sekolah dan orang tua harus berjalan seiring. Pendidikan digital tidak bisa berhasil tanpa komunikasi yang kuat antara guru dan keluarga. Yang tidak kalah penting adalah melakukan pelaporan berjenjang jika ditemukan indikasi paparan konten ekstrem," tukas Aries. (*)

Editor: Bintang Pradewo
Tags
Download Aplikasi JawaPos.com
Download PlaystoreDownload Appstore