
Pelatih Timnas Italia Luciano Spaletti. (Giampiero Sposito/Getty Images)
JawaPos.com - Luciano Spalletti mengimbau agar Juventus tetap tenang menjelang laga Liga Champions melawan Bodo/Glimt yang akan berlangsung pada Rabu (26/11) pukul 03.00 WIB. Ia menegaskan bahwa penampilan buruk yang ditunjukkan oleh timnya belakangan ini telah terlalu dibesar-besarkan, sambil menyoroti kondisi lapangan yang akan mereka hadapi.
Dalam beberapa pertandingan terakhir, Juventus hanya mampu meraih hasil imbang dalam tiga laga berturut-turut di semua kompetisi, dengan catatan mencetak dua gol saja dalam periode tersebut. Hal ini menunjukkan adanya tantangan bagi tim yang ingin kembali ke jalur kemenangan.
Statistik menunjukkan bahwa Juventus hanya mampu meraih satu kemenangan dalam 12 laga tandang terakhir mereka di Liga Champions, dengan rincian lima kali imbang dan enam kali kalah. Kemenangan tersebut terjadi saat melawan RB Leipzig pada Oktober 2024 dengan skor 3-2. Sebelum rentetan hasil buruk ini, mereka berhasil memenangkan lima dari enam laga tandang di kompetisi ini, dengan hanya satu kekalahan.
Menariknya, dalam empat pertemuan tandang Juventus melawan klub-klub asal Norwegia di kompetisi Eropa, semua pertandingan berakhir dengan hasil imbang 1-1. Ini terjadi sekali melawan Kongsvinger IL pada tahun 1993 dan tiga kali melawan Rosenborg antara tahun 1997 dan 2001.
Spalletti yakin bahwa timnya tidak seburuk yang dilaporkan oleh banyak pihak. Ia menyatakan bahwa untuk mengalahkan Bodo, mereka perlu menunjukkan semangat dan hasrat yang lebih tinggi, mengingat faktor lapangan dan iklim yang akan mempengaruhi performa mereka.
"Mari kita bahas satu per satu, karena sudah jelas bahwa kita telah mengalami bencana," ungkap Spalletti. "Para pemain tidak bermain seburuk yang dikatakan semua orang. Saya orang pertama yang mengakui bahwa kami harus berbuat lebih banyak, dan keluar dari situasi ini. Kami harus menggunakan sumber daya yang kami miliki dan memaksimalkan kualitas kami. Saya melihat semangat tim ini."
Lebih lanjut, Spalletti menjelaskan tantangan yang dihadapi timnya. "Lapangan dan iklimnya merugikan. Saya cukup beruntung pernah bekerja di luar negeri. Udara yang kita hirup berbeda, sangat dingin dan kita tidak terbiasa. Ini soal kebiasaan yang berbeda dengan kita."
Ia menekankan pentingnya keinginan tim untuk menutupi kesenjangan antara mereka dan lawan. "Keinginan kami harus menutupi kesenjangan yang ada di antara kedua tim. Mereka sangat pandai mengidentifikasi pemain, bukan hanya lapangan dan cuaca dingin. Mereka memiliki nilai yang sangat tinggi dan telah berprestasi di kompetisi internasional."
