Logo JawaPos
Author avatar - Image
29 Maret 2026, 05.34 WIB

Orang Dewasa yang Kesulitan Menetapkan Batasan, Biasanya Tumbuh di Lingkungan di Mana 9 Hal Ini Dianggap Normal Menurut Psikologi

seseorang yang kesulitan menetapkan batasan./Sumber foto: Freepik/The Yuri Arcurs Collection - Image

seseorang yang kesulitan menetapkan batasan./Sumber foto: Freepik/The Yuri Arcurs Collection

JawaPos.com - Banyak orang dewasa merasa bersalah saat berkata “tidak”, sulit mengekspresikan kebutuhan pribadi, atau terus-menerus mengorbankan diri demi orang lain. Jika kamu merasa seperti ini, kemungkinan besar itu bukan sekadar sifat bawaan—melainkan hasil dari pola yang dipelajari sejak kecil.

Dalam psikologi, kemampuan menetapkan batasan (boundaries) berkembang dari lingkungan tempat seseorang dibesarkan. Jika seseorang tumbuh di rumah di mana batasan tidak dihargai atau bahkan dilanggar, maka ia cenderung membawa pola tersebut hingga dewasa.

Dilansir dari Expert Editor pada Sabtu (28/3), terdapat 9 hal yang sering dianggap “normal” dalam keluarga seperti itu—namun sebenarnya dapat menghambat kemampuan seseorang dalam menetapkan batasan yang sehat.

1. Privasi Tidak Dihargai

Di beberapa rumah, orang tua atau anggota keluarga merasa berhak mengetahui segalanya—membaca pesan, masuk kamar tanpa izin, atau memaksa anak berbagi semua hal.

Akibatnya, anak belajar bahwa mereka tidak berhak atas ruang pribadi. Saat dewasa, mereka mungkin kesulitan mengatakan, “Ini urusan pribadi saya.”

2. Perasaan Dianggap Berlebihan

Ketika anak mengekspresikan emosi—marah, sedih, atau kecewa—mereka mungkin diberi respons seperti:

“Kamu lebay.”
“Jangan terlalu sensitif.”

Dalam psikologi, ini disebut emotional invalidation. Anak belajar untuk meragukan perasaan sendiri, sehingga saat dewasa mereka kesulitan membela diri secara emosional.

3. Cinta Bersyarat

Kasih sayang diberikan hanya ketika anak “berperilaku baik” atau memenuhi ekspektasi tertentu.

Ini membuat anak tumbuh dengan keyakinan:

“Saya harus menyenangkan orang lain agar layak dicintai.”

Akibatnya, mereka sulit menetapkan batasan karena takut ditolak atau tidak disukai.

4. Tidak Boleh Berkata “Tidak”

Dalam beberapa keluarga, menolak permintaan orang tua dianggap tidak sopan atau durhaka.

Anak belajar bahwa kebutuhan orang lain selalu lebih penting. Saat dewasa, mereka cenderung:

Over-commit
Mudah dimanfaatkan
Takut konflik

5. Peran Anak Tidak Sesuai Usia (Parentification)

Anak mungkin dipaksa menjadi “orang dewasa kecil”:

Menjadi penenang orang tua
Mengurus adik secara berlebihan
Menanggung beban emosional keluarga

Dalam psikologi, ini disebut parentification. Anak kehilangan kesempatan belajar batasan karena sejak awal mereka diajarkan untuk mengutamakan orang lain.

6. Konflik Diselesaikan dengan Diam atau Ledakan Emosi

Jika di rumah konflik hanya terjadi dalam dua cara:

Diabaikan (silent treatment)
Meledak (teriak, marah)

Anak tidak belajar komunikasi sehat. Saat dewasa, mereka mungkin:

Menghindari konflik sepenuhnya
Atau justru kesulitan mengontrol emosi saat konflik terjadi

7. Rasa Bersalah Dijadikan Alat Kontrol

Kalimat seperti:

“Ibu sudah berkorban banyak untuk kamu…”
“Kamu tega ya?”

Ini adalah bentuk manipulasi emosional halus. Anak belajar bahwa menetapkan batasan = menyakiti orang lain.

Akhirnya, rasa bersalah menjadi penghalang utama dalam berkata “tidak”.

8. Tidak Ada Penghargaan terhadap Kebutuhan Individu

Keinginan pribadi sering dianggap egois. Misalnya:

Memilih karier sendiri
Butuh waktu sendiri
Menolak permintaan keluarga

Anak belajar mengabaikan kebutuhan sendiri demi harmoni keluarga—yang kemudian terbawa hingga dewasa.

9. Batasan Orang Tua Sendiri Tidak Sehat

Anak belajar bukan dari kata-kata, tapi dari contoh. Jika orang tua:

Tidak punya batasan dengan orang lain
Selalu mengorbankan diri
Atau membiarkan diri diperlakukan tidak adil

Maka anak menganggap itu sebagai “cara hidup normal”.

Dampaknya Saat Dewasa

Orang yang tumbuh dalam lingkungan seperti ini sering mengalami:

Sulit berkata “tidak” tanpa rasa bersalah
Takut mengecewakan orang lain
Kehilangan identitas diri
Hubungan yang tidak seimbang (one-sided)
Kelelahan emosional kronis
Kabar Baiknya: Ini Bisa Dipelajari Ulang

Dalam psikologi, batasan adalah keterampilan, bukan sifat bawaan. Artinya, kamu bisa membangunnya—meskipun tidak diajarkan sejak kecil.

Beberapa langkah awal:

Mengenali kebutuhan diri sendiri
Belajar mengatakan “tidak” secara bertahap
Menerima bahwa rasa tidak nyaman itu normal
Membangun hubungan yang saling menghargai

Penutup

Jika kamu melihat diri sendiri dalam beberapa poin di atas, itu bukan berarti ada yang “salah” denganmu. Itu berarti kamu beradaptasi dengan lingkungan yang kamu miliki saat itu.

Sekarang, sebagai orang dewasa, kamu punya kesempatan untuk memilih ulang:

Apa yang kamu izinkan
Bagaimana kamu ingin diperlakukan
Dan batasan seperti apa yang ingin kamu bangun

Menetapkan batasan bukan berarti menjauhkan diri dari orang lain—melainkan cara menjaga hubungan tetap sehat, termasuk hubungan dengan dirimu sendiri.
Editor: Hanny Suwindari
Tags
Download Aplikasi JawaPos.com
Download PlaystoreDownload Appstore