
seseorang yang sering dikritik oleh ayahnya./Freepik/freepik
Jawapos.com - Dalam perjalanan tumbuh dewasa, peran ayah sering kali menjadi fondasi emosional yang tak kasatmata—membentuk cara kita memandang diri, mengambil keputusan, hingga menjalani hubungan.
Namun ketika sosok yang seharusnya memberi rasa aman justru lebih sering melepas kritik tajam, konsekuensinya dapat menetap jauh lebih lama daripada yang kita sadari.
Dilansir dari Geediting pada Selasa (2/12), psikologi modern menunjukkan bahwa pola kritik yang konsisten dari ayah—baik dalam bentuk tuntutan perfeksionisme, komentar meremehkan, atau penilaian dingin—dapat berkembang menjadi pola perilaku yang merusak diri sendiri saat anak tumbuh menjadi dewasa.
Berikut tujuh di antaranya.
1. Selalu Merasa Tidak Pernah Cukup Baik
Anak yang sering dikritik tumbuh dengan “suara internal ayah” di dalam kepala mereka.
Saat dewasa, suara ini berubah menjadi standar mustahil: harus lebih baik, harus lebih sempurna, harus selalu benar.
Akibatnya:
Sulit merayakan pencapaian sendiri
Cenderung menolak pujian
Sering merasa gagal meski objektifnya tidak
Rasa “kurang” ini bukan berasal dari kenyataan, tetapi dari standar yang dulu dipaksakan.
2. Ketakutan Lebih Besar Terhadap Kesalahan
Kritik ayah yang keras sering membuat anak merasa bahwa kesalahan adalah ancaman, bukan bagian dari proses tumbuh.
Saat dewasa, ketakutan ini membuat seseorang:
