Program BGN Bersatu Kampus dan BGN Goes to Campus menjadi langkah strategis Badan Gizi Nasional (BGN) dalam memperkuat implementasi program MBG melalui pendekatan ilmiah dan kolaborasi dengan dunia akademik/(Istimewa).
JawaPos.com - Program BGN Bersatu Kampus dan BGN Goes to Campus menjadi langkah strategis Badan Gizi Nasional (BGN) dalam memperkuat implementasi program MBG melalui pendekatan ilmiah dan kolaborasi dengan dunia akademik.
Inisiatif ini tidak hanya berfokus pada peningkatan literasi gizi masyarakat, tetapi juga menjadikan kampus sebagai laboratorium kebijakan publik yang mampu menghasilkan rekomendasi berbasis riset dan data.
Melibatkan perguruan tinggi menjadi langkah penting karena berbagai kebijakan publik membutuhkan dasar akademik yang kuat. Kampus memiliki sumber daya ilmiah, peneliti, serta mahasiswa yang dapat berkontribusi dalam mengkaji, mengevaluasi, dan mengembangkan program MBG agar semakin efektif dan tepat sasaran.
Lewat kerja sama ini, program MBG tidak hanya berjalan sebagai program pemerintah, tetapi juga menjadi ruang pembelajaran, penelitian, serta inovasi kebijakan.
"Melalui kolaborasi ini, berbagai permasalahan yang muncul dalam program MBG akan dibahas bersama. para pakar, akademisi, dan peneliti. Hasil kajian tersebut nantinya akan menjadi rekomendasi penting dalam penyempurnaan tata kelola program, sehingga kebijakan yang diambil benar-benar berbasis data dan penelitian ilmiah Lebih jauh lagi, program ini mengusung pendekatan pentahelix, yaitu kolaborasi antara pemerintah, dunia usaha, media, akademisi, dan masyarakat. Pendekatan ini diyakini mampu memperkuat sinergi lintas sektor dalam mendukung keberhasilan program MBG," kata PLT Deputi Promosi dan Kerja Sama BGN, Gunalan, Kamis (12/3).
Dalam implementasinya, BGN mengembangkan empat klaster dampak strategis yang menjadi fokus kajian dan kegiatan bersama kampus.
Klaster pertama adalah gizi dan kesehatan, yang menitikberatkan pada peningkatan status gizi anak, pencegahan stunting, peningkatan energi serta kesehatan siswa, dan perubahan pola konsumsi makan sehat. Mahasiswa dapat berperan melalui kegiatan Kuliah Kerja Nyata (KKN), edukasi gizi di sekolah, pengukuran status gizi seperti berat dan tinggi badan siswa, hingga kampanye pola makan sehat berbasis angka kecukupan gizi.
Klaster kedua adalah pendidikan dan perilaku belajar. Dalam klaster ini, program MBG diharapkan dapat berkontribusi pada peningkatan konsentrasi belajar, kehadiran siswa di sekolah, prestasi akademik, serta pembiasaan perilaku hidup bersih dan sehat. Kegiatan yang dapat dilakukan antara lain program sekolah sehat, edukasi perilaku makan sehat, serta pendampingan kantin sehat agar lingkungan sekolah mendukung kebiasaan hidup sehat bagi anak-anak dan untuk bisa nantinya menjadi penyusunan tesis, disertasi dan seterusnya.
Klaster ketiga adalah sosial dan ketahanan keluarga, yang bertujuan mengurangi beban pengeluaran rumah tangga, meningkatkan ketahanan pangan keluarga, mendorong perubahan perilaku konsumsi yang lebih sehat, serta meningkatkan kesejahteraan sosial masyarakat. Dalam konteks ini, mahasiswa dan akademisi dapat melakukan survei pengeluaran pangan keluarga, edukasi ketahanan pangan, serta penguatan pemahaman orang tua mengenai pentingnya gizi bagi anak.
Sementara itu, klaster keempat adalah sirkular ekonomi lokal yang mendorong peningkatan permintaan pangan lokal, penguatan UMKM pangan, penguatan rantai pasok, serta penciptaan lapangan kerja di sekitar dapur penyedia makanan. Kampus dapat berperan melalui pemetaan rantai pasok pangan lokal, pendampingan UMKM pengasok MBG, hingga pengembangan inovasi produk pangan berbasis potensi lokal.
Selain kegiatan pengabdian masyarakat, kerja sama ini juga membuka ruang luas bagi penelitian akademik seperti penyusunan skripsi, tesis, disertasi Serta Jurnal Ilmiah hingga forum diskusi ilmiah tematik. Berbagai kajian tersebut diharapkan dapat menjadi sumber rekomendasi kebijakan serta memperkaya perspektif dalam pengelolaan program MBG.
Beberapa perguruan tinggi telah mulai terlibat melalui pengajuan proposal penelitian kepada BGN. Salah satunya adalah Universitas Gadjah Mada (UGM) yang mengkaji penggunaan istilah Ultra Processed Food (UPF) yang selama ini menjadi perdebatan di kalangan ahli gizi. Hasil diskusi bersama para pakar teknologi pertanian menunjukkan bahwa istilah tersebut berasal dari konteks luar negeri dan tidak sepenuhnya mencerminkan realitas pangan lokal Indonesia. Melalui pendekatan akademik, muncul usulan penggunaan istilah (PF) processed food yang dinilai lebih relevan dengan karakter pangan nasional.
Di sisi lain, Universitas Indonesia (UI) juga mengajukan penelitian mengenai dampak sosial program MBG, termasuk analisis pengaruhnya terhadap kondisi ekonomi masyarakat dan potensi penurunan tingkat kemiskinan. Kajian-kajian semacam ini menjadi sangat penting untuk memastikan bahwa program MBG tidak hanya berdampak pada aspek gizi, tetapi juga memberikan manfaat sosial dan ekonomi secara lebih luas.
Pada tahap awal implementasi tahun 2026, kerja sama ini difokuskan pada sejumlah perguruan tinggi negeri yang mewakili berbagai wilayah di Indonesia. Selain UGM dan UI, beberapa kampus lain juga akan dilibatkan untuk melakukan penelitian dan pengembangan yang berkaitan dengan berbagai tantangan implementasi program MBG di lapangan.
Keterlibatan mahasiswa juga menjadi bagian penting dalam program ini. Sebagai bagian dari civitas akademika sekaligus elemen masyarakat, mahasiswa memiliki peran strategis dalam menyampaikan gagasan, melakukan penelitian, serta menjadi kontrol sosial yang konstruktif bagi pengembangan program.
Sebagai program yang relatif baru diluncurkan, MBG masih terus berkembang dan membutuhkan berbagai masukan dari banyak pihak. Dengan melibatkan kampus sebagai mitra strategis, BGN optimistis bahwa program ini akan semakin kaya dengan penelitian, inovasi, serta gagasan baru yang dapat memperkuat implementasinya di masa depan.
Kolaborasi antara pemerintah dan dunia akademik ini diharapkan mampu menciptakan ekosistem kebijakan yang lebih kuat, berbasis ilmu pengetahuan, serta memberikan dampak nyata bagi peningkatan kualitas gizi, pendidikan, dan kesejahteraan masyarakat Indonesia.