Ilustrasi penyakit ISPA (freepik)
JawaPos.com-Bencana yang menerjang beberapa wilayah di Indonesia sejak akhir November 2025 lalu menyebabkan jutaan warga harus mengungsi.
Daerah seperti Sumatera dan Aceh menjadi wilayah yang paling terdampak bencana khususnya akibat banjir bandang dan tanah longsor, yang menghancurkan rumah serta fasilitas umum.
Bencana ini juga memicu efek domino yang besar bagi masyarakat, mulai dari terhentinya aktivitas ekonomi, trauma emosional, sampai meningkatnya risiko penyakit menular.
Berdasarkan informasi dari laman www.bnpb.go.id pemerintah melalui pusat krisis kementerian kesehatan menyampaikan sejumlahi penyakit yang berpotensi muncul pada korban bencana maupun di area pengungsian.
Beberapa diantaranya adalah ISPA, hipertensi, infeksi kulit, alergi, flu, nyeri otot, sakit kepala, vertigo, dan asam lambung.
Namun, tidak menutup kemungkinan penyakit menular lain juga dapat ikut berkembang. Oleh karena itu penting untuk menjaga kebersihan seperti menggunakan masker, membersihkan lingkungan yang kotor, memperbaiki sanitasi, dan membuang sampah dengan benar selama berada di pengungsian. Cara-cara sederhana seperti ini dapat memperkecil potensi penularan penyakit.
Mengutip dari laman pusatkrisis.kemkes.go.id berikut penyakit menular dan paling sering terjadi setelah terjadinya bencana alam.
Diare
Kondisi lingkungan pasca bencana yang sepenuhnya masih belum steril dan dipenuhi dengan sampah, sampah, lumpur, dan kotoran dapat berpotensi menyebabkan diare. Penularan diare kerap melalui makanan dan alat makan. Makanan dan alat makan tersebut akan terkontaminasi bakteri, virus, atau parasit. Kondisi ini dapat meningkatkan kasus diare di kalangan pengungsi.
Demam dan DBD
Kondisi cuaca yang tidak menentu membuat pengungsi rentan terkena demam. Perubahan suhu yang drastis, dan daya tahan tubuh yang melemah akibat kedinginan dapat memicu meriang. Demam juga patut diwaspadai dan tidak boleh dianggap remeh, karena demam bisa jadi gejala awal munculnya penyakit menular seperti DBD, malaria, atau chikungunya. Lingkungan setelah banjir yang kotor dan penuh genangan air dapat mempercepat proses perkembangbiakan nyamuk.
Alergi
Pasca bencana banyak sekali area yang dipenuhi debu berterbangan sehingga bisa memicu bersin, mata berair dan hidung tersumbat. Kondisi lingkungan yang berubah secara tiba-tiba menjadi lembab membuat jamur cepat tumbuh yang bisa memunculkan rasa gatal-gatal pada kulit, alergi pernapasan, dan sesak napas.
ISPA
