Salah satu tanda dehidrasi saat berpuasa adalah tidak fokus dan kehilangan konsentrasi (freepik)
JawaPos.com – Selama bulan suci Ramadhan, umat Muslim menahan diri dari makan dan minum dari fajar hingga matahari terbenam sehingga menjaga keseimbangan cairan tubuh menjadi sangat penting agar puasa tetap aman dan nyaman.
Karena waktu minum terbatas, risiko dehidrasi atau kekurangan cairan menjadi lebih tinggi khususnya di negara dengan cuaca panas atau aktivitas fisik berat.
Mengenali tanda-tanda kekurangan cairan sejak dini membantu Anda mengambil langkah pencegahan seperti meningkatkan asupan air di luar jam puasa atau memilih makanan kaya cairan.
Dalam kondisi dehidrasi ringan hingga sedang, tubuh sudah memberikan sinyal yang harus diperhatikan meskipun sering kali tampak sepele.
Mengabaikan tanda-tanda tersebut bisa membuat risiko kesehatan meningkat,terutama saat cuaca panas atau aktivitas tinggi selama Ramadhan.
Dilansir dari laman Ministry of Health dan Eating Well,Sabtu (21/2) berikut beberapa tanda tubuh kekurangan cairan selama puasa Ramadhan :
Salah satu tanda paling awal tubuh kekurangan cairan adalah rasa haus yang terus muncul meskipun sering minum saat sahur dan berbuka puasa.
Menurut pedoman kesehatan selama puasa, rasa haus menunjukkan bahwa tubuh sudah mulai kehilangan keseimbangan cairan dan perlu segera diatasi di luar jam puasa.
Rasa haus ini menjadi lebih intens terutama ketika suhu tinggi atau udara yang kering mempercepat penguapan cairan tubuh. Anda mungkin merasa haus meskipun sudah minum dengan jumlah yang cukup.
Hal ini bisa disebabkan oleh jumlah air yang hilang melalui keringat dan pernapasan lebih cepat daripada yang diisi saat sahur dan berbuka puasa.
Oleh karena itu, penting tidak menunggu sampai haus,melainkan minum secara teratur di luar jam puasa agar cairan tubuh tetap seimbang.
