Perilaku orang dewasa yang dibesarkan dari keluarga tidak harmonis menurut Psikologi. (Pexels/ Thnh Phng)
JawaPos.com - Tidak semua orang beruntung tumbuh dalam keluarga yang penuh cinta dan dukungan.
Bagi mereka yang dibesarkan di lingkungan keluarga yang kurang harmonis, pengalaman masa kecil sering membentuk kepribadian dan kebiasaan mereka saat dewasa.
Pola asuh yang sarat konflik, ketidakpastian, atau minim kasih sayang dapat meninggalkan dampak emosional yang mendalam tanpa disadari.
Mengacu pada Geediting, berikut delapan kebiasaan yang kerap dimiliki oleh orang-orang yang tumbuh dalam keluarga kurang harmonis.
1) Kepekaan Terhadap Konflik
Orang yang tumbuh dalam lingkungan yang penuh konflik biasanya memiliki kepekaan tinggi terhadap pertengkaran atau ketegangan di sekitarnya.
Mereka bisa dengan cepat membaca perubahan suasana hati orang lain dan sering kali memiliki firasat yang kuat tentang potensi perselisihan.
Kepekaan ini bisa menjadi kelebihan karena mereka mampu memahami situasi sosial dengan lebih baik.
Mereka bisa merasakan ketika seseorang merasa tidak nyaman, ketika ada ketidakseimbangan dalam hubungan, atau ketika sebuah percakapan mengarah pada ketegangan.
Ini bisa membuat mereka lebih diplomatis dan bijaksana dalam berinteraksi dengan orang lain.
Namun, di sisi lain, kepekaan berlebih terhadap konflik juga bisa menjadi beban emosional.
Mereka cenderung merasa cemas atau bahkan takut jika berada di lingkungan yang penuh perselisihan, meskipun konflik tersebut tidak secara langsung berkaitan dengan mereka.
Dalam beberapa kasus, mereka bisa menjadi sangat menghindari konfrontasi, bahkan ketika mereka seharusnya berbicara atau membela diri.
Akibatnya, mereka bisa mengalami kesulitan dalam mengutarakan pendapat atau mengekspresikan ketidaksetujuan mereka dalam hubungan pribadi maupun profesional, karena mereka takut memicu konflik yang bisa mengingatkan mereka pada pengalaman masa lalu yang tidak menyenangkan.