seseorang yang tenang dan percaya diri./Freepik/nampix
JawaPos.com - Tidak semua luka masa kecil terlihat jelas. Ada luka yang tumbuh diam-diam, ditanam dari kata-kata sederhana, tatapan kecewa, atau sikap orang tua yang tanpa sengaja menimbulkan rasa “tidak cukup” dalam diri anak.
Saat anak berkembang, dunia di sekelilingnya dibentuk dari cara orang tua memandang dan memperlakukannya.
Setiap kata, nada suara, dan reaksi menjadi cermin tempat anak menilai siapa dirinya.
Jika cermin itu retak akibat kritik, tuntutan, atau perbandingan, yang tercermin bukan anak yang tangguh, melainkan jiwa kecil yang mulai meragukan dirinya sendiri.
Anak yang kehilangan kepercayaan diri bukan berarti kurang pintar atau tak berbakat, melainkan karena terlalu sering merasa tidak diterima sebagaimana dirinya.
Kepercayaan diri lahir bukan hanya dari pujian, tetapi dari rasa aman yang ditanam sejak kecil.
Sayangnya, banyak orang tua tidak menyadari bahwa kebiasaan kecil yang tampak sepele bisa menjadi akar hilangnya kebahagiaan dan keyakinan diri anak di masa depan.
Mengacu pada Geediting, berikut tujuh kebiasaan yang sering dilakukan tanpa sadar, tetapi memiliki dampak besar terhadap mental dan perasaan anak kelak.
1. Terlalu Sering Membandingkan Anak dengan Orang Lain
“Lihat tuh, anak tetangga bisa begini, kenapa kamu tidak?”
Kalimat sederhana seperti ini bisa menjadi racun yang perlahan merusak rasa percaya diri anak.
Perbandingan membuat anak merasa dirinya tak pernah cukup. Ia belajar bahwa cintamu bersyarat, bahwa ia hanya pantas diterima jika seperti orang lain.
Anak yang tumbuh di bawah bayangan perbandingan akan terus mengejar validasi, bukan kebahagiaan.
Ia akan berusaha keras menjadi seseorang yang bukan dirinya sendiri, hanya demi mendapatkan pengakuan.
Padahal, setiap anak unik, dan ketika ia terus dibandingkan, jiwanya kehilangan arah untuk berkembang menjadi versi terbaik dari dirinya sendiri.