Logo JawaPos
Author avatar - Image
31 Maret 2026, 00.40 WIB

Jika Anda Terganggu Secara Tidak Rasional oleh Orang yang Berisik, Anda Kemungkinan Memiliki 7 Ciri Kepribadian Ini Menurut Psikologi

seseorang yang merasa terganggu oleh orang yang berisik / freepik - Image

seseorang yang merasa terganggu oleh orang yang berisik / freepik

JawaPos.com - Tidak semua orang bereaksi sama terhadap kebisingan. Ada yang tetap tenang meskipun berada di tengah keramaian, sementara yang lain bisa merasa sangat terganggu bahkan oleh suara kecil yang berulang.

Jika Anda termasuk orang yang mudah merasa kesal, marah, atau tidak nyaman secara berlebihan terhadap suara berisik, bisa jadi hal ini bukan sekadar soal preferensi—melainkan berkaitan dengan kepribadian Anda.

Dalam perspektif psikologi, sensitivitas terhadap suara sering kali mencerminkan pola berpikir, emosi, dan cara seseorang memproses lingkungan di sekitarnya. Dilansir dari Expert Editor pada Senin (30/3), terdapat tujuh ciri kepribadian yang sering dimiliki oleh orang yang merasa terganggu secara tidak rasional oleh kebisingan.


1. Sensitivitas Sensorik yang Tinggi

Salah satu penyebab utama adalah sensitivitas sensorik tinggi. Orang dengan ciri ini memiliki sistem saraf yang lebih responsif terhadap rangsangan eksternal, termasuk suara.

Mereka tidak hanya “mendengar” suara, tetapi benar-benar “merasakannya”. Bunyi yang bagi orang lain biasa saja bisa terasa menusuk, mengganggu, atau bahkan menyakitkan secara emosional.

Ciri ini sering ditemukan pada individu yang:

Mudah lelah di lingkungan ramai
Membutuhkan waktu sendiri untuk “recharge”
Cepat merasa kewalahan (overstimulated)

2. Perfeksionisme

Jika Anda menyukai keteraturan, ketenangan, dan kontrol, kebisingan bisa terasa seperti gangguan besar. Orang yang perfeksionis cenderung menginginkan lingkungan yang ideal untuk fokus dan produktivitas.

Suara bising dianggap sebagai:

Gangguan terhadap konsentrasi
Ketidakteraturan yang mengganggu sistem
Hal yang “tidak pada tempatnya”

Akibatnya, reaksi yang muncul bisa terasa lebih intens daripada yang seharusnya.

3. Kebutuhan Tinggi Akan Kontrol

Beberapa orang merasa nyaman hanya ketika mereka memiliki kendali atas lingkungan mereka. Kebisingan—terutama yang tidak bisa dikontrol—dapat memicu rasa frustrasi.

Misalnya:

Tetangga yang memutar musik keras
Orang berbicara terlalu keras di ruang publik
Suara berulang yang tidak bisa dihentikan

Ketika Anda tidak bisa mengendalikan situasi tersebut, otak bisa merespons dengan stres atau kemarahan.

4. Mudah Cemas (Anxious Personality)

Orang dengan tingkat kecemasan tinggi cenderung lebih peka terhadap rangsangan, termasuk suara. Kebisingan dapat memperburuk kondisi mental mereka karena:

Mengganggu rasa aman
Memicu pikiran berlebihan
Meningkatkan ketegangan fisik

Dalam kondisi ini, suara bukan hanya gangguan, tetapi juga “pemicu” kecemasan yang lebih besar.

5. Introversi yang Kuat

Individu yang sangat introvert biasanya lebih menyukai lingkungan yang tenang dan minim stimulasi. Mereka mendapatkan energi dari kesunyian, bukan dari keramaian.

Kebisingan bisa terasa melelahkan karena:

Menguras energi mental
Menghambat proses berpikir
Mengganggu kebutuhan akan ketenangan

Itulah sebabnya mereka sering mencari tempat sunyi untuk bekerja atau beristirahat.

6. Overthinking dan Pikiran yang Aktif

Jika Anda sering berpikir berlebihan, kebisingan bisa menjadi “gangguan tambahan” yang membuat pikiran semakin kacau.

Alih-alih mengabaikan suara, otak justru:

Terus memprosesnya
Mengaitkannya dengan emosi negatif
Sulit mengalihkan fokus

Akibatnya, suara kecil sekalipun bisa terasa sangat mengganggu karena pikiran Anda sudah penuh.

7. Ambang Toleransi Stres yang Rendah

Ketika seseorang sedang lelah, stres, atau kewalahan, toleransi terhadap gangguan akan menurun—termasuk terhadap suara.

Dalam kondisi ini:

Hal kecil terasa besar
Reaksi emosional menjadi lebih cepat muncul
Kesabaran berkurang drastis

Jadi, bisa jadi bukan kepribadian permanen, melainkan kondisi mental sementara yang memperbesar reaksi Anda terhadap kebisingan.

Penutup: Apakah Ini Hal yang Buruk?

Tidak. Sensitif terhadap suara bukanlah kelemahan. Dalam banyak kasus, ini justru berkaitan dengan kepekaan, kesadaran tinggi, dan kemampuan memproses informasi secara mendalam.

Namun, jika hal ini mulai mengganggu kehidupan sehari-hari, Anda bisa mencoba:

Menggunakan earplug atau headphone
Menciptakan ruang kerja yang tenang
Melatih teknik relaksasi atau mindfulness
Mengatur batasan dengan lingkungan sekitar

Pada akhirnya, memahami diri sendiri adalah kunci. Ketika Anda tahu alasan di balik reaksi Anda, Anda bisa mengelolanya dengan lebih baik—bukan sekadar melawannya.***
Editor: Setyo Adi Nugroho
Tags
Download Aplikasi JawaPos.com
Download PlaystoreDownload Appstore