Logo JawaPos
Author avatar - Image
28 Maret 2026, 23.09 WIB

Jika Anda Melihat 8 Perilaku Ini Berulang Kali, Menurut Psikologi Anda Berurusan dengan Seseorang yang Kekurangan Kasih Sayang Saat Kecil

seseorang yang kekurangan kasih sayang. (Freepik/dragonimages) - Image

seseorang yang kekurangan kasih sayang. (Freepik/dragonimages)

JawaPos.com - Masa kecil adalah fondasi emosional bagi setiap manusia. Cara seseorang menerima cinta, perhatian, dan rasa aman sejak dini akan membentuk bagaimana ia memandang dirinya sendiri, orang lain, dan hubungan di masa depan. Ketika kebutuhan emosional dasar tidak terpenuhi—baik karena kurangnya perhatian, kasih sayang, validasi, atau kehadiran orang tua—dampaknya sering terbawa hingga dewasa, bahkan tanpa disadari.

Psikologi modern menunjukkan bahwa “kekurangan kasih sayang emosional” di masa kecil tidak selalu terlihat jelas. Seseorang bisa saja tumbuh dalam keluarga yang tampak “normal”, tetapi tetap merasa kosong secara emosional. Perasaan ini kemudian muncul dalam bentuk pola perilaku tertentu.

Dilansir dari Expert Editor, jika Anda melihat beberapa perilaku berikut muncul berulang kali pada seseorang (atau bahkan pada diri sendiri), ada kemungkinan besar itu berkaitan dengan kurangnya kasih sayang di masa kecil.

1. Sulit Mengekspresikan Emosi

Orang yang tumbuh tanpa cukup validasi emosional sering kali tidak belajar bagaimana mengenali dan mengekspresikan perasaan mereka dengan sehat. Mereka mungkin:

Terlihat dingin atau tertutup
Kesulitan mengatakan “aku sedih” atau “aku butuh bantuan”
Lebih memilih memendam daripada berbicara

Bagi mereka, emosi terasa membingungkan atau bahkan “tidak aman” untuk ditunjukkan.

2. Sangat Haus Validasi dari Orang Lain

Sebaliknya, ada juga yang menunjukkan kebutuhan besar akan pengakuan. Mereka:

Sering mencari pujian
Mudah merasa tidak dihargai
Sangat bergantung pada pendapat orang lain

Ini terjadi karena di masa kecil, mereka tidak mendapatkan cukup pengakuan atau rasa dihargai, sehingga terus mencarinya saat dewasa.

3. Takut Ditinggalkan atau Ditolak

Rasa takut ditinggalkan biasanya berakar dari pengalaman emosional yang tidak stabil di masa kecil. Perilaku yang muncul bisa berupa:

Cemas berlebihan dalam hubungan
Terlalu bergantung pada pasangan
Panik ketika komunikasi berkurang

Ketakutan ini bukan tentang situasi saat ini, melainkan luka lama yang belum sembuh.

4. Sulit Mempercayai Orang Lain

Jika seseorang tidak mendapatkan rasa aman dari figur pengasuhnya, ia mungkin tumbuh dengan keyakinan bahwa dunia tidak bisa dipercaya. Akibatnya:

Mereka selalu curiga
Sulit membuka diri
Menjaga jarak emosional

Bahkan dalam hubungan yang sehat, mereka tetap merasa “harus waspada”.

5. Perfeksionis atau Terlalu Keras pada Diri Sendiri

Sebagian orang mencoba “mengganti” kekurangan kasih sayang dengan pencapaian. Mereka berpikir:

“Jika aku sempurna, aku akan layak dicintai.”

Ciri-cirinya:

Takut gagal secara berlebihan
Selalu merasa kurang
Tidak pernah puas dengan diri sendiri

Padahal, akar masalahnya adalah kebutuhan akan penerimaan tanpa syarat.

6. Sulit Menjalin Hubungan yang Stabil

Hubungan menjadi medan yang rumit bagi mereka. Pola yang sering muncul:

Terjebak dalam hubungan tidak sehat
Menarik diri ketika mulai dekat
Atau justru terlalu cepat melekat

Ini karena mereka belum memiliki “peta emosional” yang sehat tentang bagaimana hubungan seharusnya berjalan.

7. Menghindari Kedekatan Emosional

Sebagian orang memilih menjauh daripada terluka. Mereka:

Terlihat mandiri secara ekstrem
Tidak nyaman dengan keintiman
Menghindari pembicaraan emosional

Di balik itu, sering kali ada ketakutan bahwa kedekatan akan berujung pada kekecewaan.

8. Merasa Kosong atau Tidak Cukup Tanpa Alasan Jelas

Ini adalah salah satu tanda paling halus namun mendalam. Mereka mungkin:

Merasa hampa meski hidup “baik-baik saja”
Sulit merasa bahagia sepenuhnya
Memiliki rasa tidak cukup yang konstan

Perasaan ini berasal dari kebutuhan emosional yang tidak pernah benar-benar terpenuhi sejak kecil.

Mengapa Hal Ini Penting untuk Dipahami?

Memahami akar perilaku bukan untuk menyalahkan masa lalu, tetapi untuk membuka jalan menuju penyembuhan. Banyak orang tidak menyadari bahwa pola hidup mereka saat ini adalah respons dari pengalaman lama yang belum selesai.

Kabar baiknya, otak dan emosi manusia bersifat fleksibel. Dengan kesadaran, refleksi diri, dan dukungan yang tepat (seperti terapi atau hubungan yang sehat), seseorang bisa belajar:

Mengenali emosinya
Membangun hubungan yang lebih sehat
Mengembangkan rasa aman dari dalam diri
Penutup

Melihat tanda-tanda ini pada seseorang bukan berarti mereka “rusak” atau tidak bisa berubah. Justru sebaliknya—ini adalah petunjuk bahwa mereka pernah berjuang tanpa dukungan emosional yang cukup.

Dan sering kali, yang paling mereka butuhkan bukan kritik, melainkan pemahaman.

Jika Anda mengenali tanda-tanda ini pada diri sendiri, itu bukan kelemahan. Itu adalah awal dari kesadaran—dan kesadaran adalah langkah pertama menuju perubahan.
***
Editor: Novia Tri Astuti
Tags
Download Aplikasi JawaPos.com
Download PlaystoreDownload Appstore