
Ilustrasi kekuatan memori orang generasi lama yang hilang di era smartphone sekarang ini (Geediting)
JawaPos.com - Dalam perjalanan hidup, ada satu fase yang tidak pernah benar-benar diajarkan secara utuh, tetapi pasti akan dijalani oleh setiap manusia: menjadi dewasa. Fase ini bukan sekadar tentang usia yang bertambah, melainkan tentang perubahan cara berpikir, cara merespons kehidupan, hingga cara memikul tanggung jawab tanpa selalu mencari pelarian.
Fenomena “adulting” yang sering digaungkan generasi masa kini sebenarnya bukan hal baru. Ia hanyalah bentuk modern dari realita lama yang dulu dijalani generasi terdahulu—namun dengan sikap yang berbeda.
Jika dulu banyak hal dijalani dalam diam, kini justru sering diungkapkan dalam bentuk keluhan, candaan, atau bahkan keresahan yang dibagikan secara terbuka.
Dilansir dari yourtango.com, penulis Judith Tutin mengulas bagaimana ada perbedaan mencolok antara cara generasi lama dan generasi sekarang dalam menghadapi realita kehidupan dewasa.
Berikut lima realita “menjadi dewasa” yang sebenarnya sudah lama ada, namun kini terasa lebih berat bagi sebagian orang:
1. Mengendalikan Perasaan di Tengah Kewajiban yang Tidak Selalu Menyenangkan
Menjadi dewasa bukan hanya soal melakukan hal-hal yang terlihat “dewasa”, tetapi juga tentang bagaimana seseorang mengelola perasaan saat menjalaninya.
Tidak semua tugas terasa menyenangkan—bahkan sebagian besar justru melelahkan secara emosional.
Generasi terdahulu cenderung tetap menjalani kewajiban tanpa banyak mempertanyakan perasaan mereka. Sementara itu, generasi sekarang lebih sadar akan emosi yang muncul, termasuk rasa malas, jenuh, atau keinginan untuk melakukan hal lain yang lebih menyenangkan.
Di sinilah letak tantangannya: tetap melakukan hal yang perlu dilakukan meski hati tidak sepenuhnya ingin.
