
seseorang yang tidak bisa fokus pada satu hal. (Freepik/thanyakij-12)
JawaPos.com - Di era modern yang serba cepat, kemampuan untuk fokus pada satu hal menjadi semakin langka. Banyak orang merasa sulit untuk menyelesaikan satu tugas tanpa terdistraksi oleh hal lain—mulai dari notifikasi ponsel, pikiran yang melompat-lompat, hingga dorongan untuk melakukan banyak hal sekaligus.
Fenomena ini sering dikaitkan dengan konsep multitasking, yaitu kecenderungan seseorang untuk mengerjakan beberapa hal dalam waktu bersamaan. Namun, menurut psikologi, otak manusia sebenarnya tidak benar-benar multitasking—melainkan berpindah dengan cepat dari satu tugas ke tugas lain. Inilah yang sering membuat fokus menjadi terpecah.
Menariknya, orang yang sulit melakukan satu hal dalam satu waktu biasanya memiliki pola kepribadian tertentu. Dilansir dari Geediting, terdapat 7 tipe kepribadian yang sering ditemukan:
1. Si Pencari Stimulus (High Stimulation Seeker)
Orang dengan tipe ini selalu membutuhkan rangsangan baru. Mereka mudah bosan jika hanya mengerjakan satu hal dalam waktu lama.
Dalam psikologi, ini sering dikaitkan dengan kebutuhan dopamin yang tinggi. Mereka cenderung:
Cepat berpindah aktivitas
Suka hal baru
Sulit bertahan dalam rutinitas
Kelebihan: Kreatif dan adaptif
Kekurangan: Kurang konsisten
2. Si Perfeksionis yang Overthinking
Perfeksionis tidak selalu fokus—justru sering sebaliknya. Mereka terlalu banyak berpikir tentang satu tugas sehingga akhirnya berpindah ke tugas lain.
Fenomena ini berhubungan dengan overthinking.
Ciri-cirinya:
Takut hasil tidak sempurna
Sering menunda pekerjaan
Memulai banyak hal tapi sulit menyelesaikan
3. Si Mudah Terdistraksi (Distractible Mind)
Tipe ini sangat sensitif terhadap gangguan eksternal maupun internal.
Hal ini berkaitan dengan rentang perhatian atau attention span yang cenderung pendek.
Contohnya:
Sedikit suara langsung mengganggu
Notifikasi langsung dicek
Pikiran mudah melayang
4. Si Kreatif yang “Melompat-Lompat”
Orang kreatif sering memiliki banyak ide dalam waktu bersamaan. Otaknya bekerja cepat, tetapi tidak selalu terstruktur.
Mereka:
Sering memulai banyak proyek
Ide datang terus-menerus
Sulit menyelesaikan satu hal sebelum pindah ke yang lain
Catatan: Ini bukan kelemahan, tapi perlu manajemen yang baik.
5. Si Pencemas (Anxious Personality)
Kecemasan membuat pikiran terus aktif dan sulit diam. Hal ini membuat fokus terpecah.
Dalam psikologi, ini berkaitan dengan anxiety disorder (meskipun tidak selalu sampai level gangguan klinis).
Ciri:
Pikiran “lari” ke banyak kemungkinan
Sulit tenang saat bekerja
Sering merasa terburu-buru
6. Si Impulsif
Tipe ini cenderung mengikuti dorongan sesaat. Mereka ingin langsung melakukan apa yang terpikirkan tanpa mempertimbangkan prioritas.
Hal ini sering dikaitkan dengan kontrol diri yang rendah dalam psikologi kepribadian.
Ciri:
Mudah tergoda hal baru
Sulit menahan diri
Cepat berpindah aktivitas
7. Si “Busy but Not Productive”
Orang ini terlihat sibuk sepanjang waktu, tetapi sebenarnya tidak fokus.
Mereka:
Mengerjakan banyak hal sekaligus
Jarang menyelesaikan tugas secara tuntas
Merasa lelah tanpa hasil maksimal
Fenomena ini sering disebut sebagai “pseudo-productivity”.
Kenapa Hal Ini Terjadi?
Secara ilmiah, otak manusia memiliki keterbatasan dalam memproses informasi. Ketika kita mencoba melakukan banyak hal sekaligus, otak harus terus berpindah fokus—yang disebut sebagai task switching.
Akibatnya:
Produktivitas menurun
Kualitas kerja menurun
Mental menjadi cepat lelah
Apakah Ini Buruk?
Tidak selalu.
Beberapa tipe di atas justru memiliki kelebihan:
Kreatif
Cepat beradaptasi
Punya banyak ide
Namun, tanpa kontrol, hal ini bisa menghambat pencapaian jangka panjang.
Cara Mengatasinya
Beberapa strategi sederhana yang bisa membantu:
Fokus pada satu tugas selama 25–50 menit (teknik Pomodoro)
Matikan notifikasi saat bekerja
Buat daftar prioritas harian
Latih mindfulness atau meditasi
Kurangi kebiasaan multitasking
Kesimpulan
Orang yang tidak bisa melakukan satu hal dalam satu waktu bukan berarti “tidak mampu fokus”—melainkan memiliki pola kepribadian tertentu yang memengaruhi cara kerja otaknya.
Dengan memahami tipe kepribadian ini, kita bisa:
Lebih mengenal diri sendiri
Mengelola fokus dengan lebih baik
