Logo JawaPos
Author avatar - Image
26 Maret 2026, 21.47 WIB

Jika Anda Ingin Anak-Anak Anda yang Sudah Dewasa Benar-Benar Menikmati Liburan Bersama Anda, Hentikan 8 Perilaku Ini Menurut Psikologi

seseorang yang liburan bersama anak yang sudah dewasa. (Freepik/freepik)

JawaPos.com - Liburan keluarga sering dibayangkan sebagai momen hangat: tawa di meja makan, percakapan santai, dan kenangan indah yang akan dikenang sepanjang hidup. Namun kenyataannya, ketika anak-anak sudah dewasa, dinamika hubungan keluarga juga ikut berubah. Apa yang dulu terasa normal saat mereka kecil, bisa terasa mengekang atau melelahkan ketika mereka sudah memiliki kehidupan, pekerjaan, bahkan keluarga sendiri.

Banyak orang tua tidak menyadari bahwa beberapa kebiasaan kecil selama liburan justru dapat membuat anak-anak dewasa merasa tidak nyaman. Dalam psikologi hubungan keluarga, kualitas kebersamaan tidak hanya ditentukan oleh niat baik, tetapi juga oleh cara kita berinteraksi.

Dilansir dari Expert Editor, jika Anda ingin anak-anak Anda yang sudah dewasa benar-benar menikmati waktu liburan bersama Anda—bukan sekadar datang karena kewajiban—mungkin sudah saatnya untuk mempertimbangkan menghentikan beberapa perilaku berikut.

1. Terlalu Mengontrol Rencana Liburan

Sebagian orang tua merasa bertanggung jawab mengatur seluruh agenda liburan: jam bangun, tempat makan, destinasi wisata, bahkan aktivitas setiap jamnya. Niatnya mungkin baik—agar semuanya berjalan lancar.

Namun bagi anak yang sudah dewasa, kontrol berlebihan bisa terasa seperti kembali ke masa kecil yang penuh aturan.

Psikologi otonomi menjelaskan bahwa orang dewasa membutuhkan rasa kebebasan dalam membuat keputusan. Jika setiap kegiatan sudah diatur tanpa ruang untuk memilih, mereka bisa merasa tidak dihargai sebagai individu yang mandiri.

Cobalah memberi ruang untuk diskusi. Biarkan semua anggota keluarga mengusulkan kegiatan. Dengan begitu, liburan terasa seperti pengalaman bersama, bukan jadwal yang dipaksakan.

2. Mengungkit Masa Lalu Terlalu Sering

Cerita masa kecil memang bisa menyenangkan. Tetapi jika setiap percakapan selalu kembali pada kesalahan lama, kebiasaan buruk, atau fase memalukan anak saat kecil, hal ini bisa membuat mereka tidak nyaman.

Menurut psikologi identitas, orang dewasa ingin dilihat berdasarkan siapa mereka sekarang, bukan hanya berdasarkan masa lalu.

Mengenang kenangan lucu sesekali tidak masalah. Namun hindari menjadikan masa lalu sebagai label yang terus melekat.

3. Mengkritik Pilihan Hidup Mereka

Topik seperti karier, pasangan, cara mengasuh anak, atau keputusan hidup lainnya sering muncul saat liburan keluarga. Tanpa disadari, komentar yang terdengar seperti saran bisa terasa seperti kritik.

Editor: Novia Tri Astuti
Tags
Download Aplikasi JawaPos.com
Download PlaystoreDownload Appstore