Logo JawaPos
Author avatar - Image
24 Maret 2026, 21.18 WIB

Mudah Disukai tetapi Sulit Didekati Bukanlah Penderita Fobia Komitmen, 6 Kenangan Masa Kecil Membentuk Mereka Menurut Psikologi

seseorang yang sulit didekati./Freepik/drobotdean - Image

seseorang yang sulit didekati./Freepik/drobotdean

JawaPos.com - Di kehidupan sehari-hari, kita sering bertemu seseorang yang kehadirannya menyenangkan. Mereka ramah, hangat, mudah diajak ngobrol, bahkan sering jadi pusat perhatian karena auranya yang positif.

Anehnya, ketika hubungan mulai mengarah lebih dalam—baik itu pertemanan dekat atau hubungan romantis—mereka justru tampak menjaga jarak.

Banyak orang buru-buru melabeli mereka sebagai “takut komitmen”. Namun, psikologi melihat fenomena ini dengan sudut pandang yang jauh lebih dalam.

Bukan semata-mata ketakutan terhadap komitmen, melainkan hasil dari pengalaman emosional di masa kecil yang membentuk cara mereka membangun hubungan.

Dilansir dari Geediting pada Rabu (18/3), terdapat enam kenangan atau pola pengalaman masa kecil yang sering ditemukan pada orang yang “mudah disukai tetapi sulit didekati”.

1. Kedekatan yang Tidak Konsisten dari Orang Tua


Salah satu pola paling umum adalah pengalaman dengan figur orang tua yang tidak konsisten—kadang hangat, kadang dingin. Anak tumbuh dengan kebingungan: kapan mereka akan diterima sepenuhnya, dan kapan mereka akan diabaikan.

Akibatnya, saat dewasa mereka belajar satu hal penting: kedekatan itu tidak selalu aman. Mereka bisa terlihat ramah dan menyenangkan di permukaan, tetapi ketika hubungan mulai lebih dekat, alarm emosional mereka aktif.

Mereka tidak menjauh karena tidak peduli—justru karena mereka terlalu peka terhadap kemungkinan terluka.

2. Terbiasa Menjadi “Anak Baik” atau People Pleaser


Beberapa orang tumbuh dengan keyakinan bahwa cinta harus “didapatkan” dengan cara menyenangkan orang lain. Mereka belajar membaca situasi, menyesuaikan diri, dan membuat orang lain nyaman.

Hasilnya? Mereka menjadi pribadi yang sangat disukai banyak orang.

Namun di balik itu, ada jarak emosional. Mereka terbiasa menunjukkan versi diri yang “diterima”, bukan diri yang sepenuhnya autentik. Ketika seseorang mencoba mengenal mereka lebih dalam, mereka bisa merasa tidak aman—karena kedekatan berarti membuka sisi yang selama ini mereka sembunyikan.

3. Pengalaman Penolakan Emosional yang Halus


Tidak semua luka masa kecil datang dari kejadian besar. Kadang, yang paling membekas justru penolakan kecil yang berulang: perasaan tidak didengarkan, emosi yang diremehkan, atau kebutuhan yang diabaikan.

Anak belajar bahwa mengekspresikan diri secara emosional tidak selalu berujung baik. Maka, mereka mulai membangun “filter”.

Saat dewasa, mereka tetap bisa berinteraksi dengan hangat, tetapi menjaga lapisan tertentu agar tidak tersentuh. Mereka ingin terhubung, tetapi juga ingin tetap aman.

4. Terlalu Cepat Menjadi Mandiri Secara Emosional

Beberapa anak tumbuh dalam situasi yang membuat mereka harus “kuat lebih cepat”. Mereka mungkin tidak memiliki tempat yang aman untuk bergantung secara emosional, sehingga belajar mengandalkan diri sendiri sejak dini.

Kemandirian ini sering terlihat sebagai kekuatan saat dewasa. Mereka tampak stabil, tidak bergantung pada orang lain, dan mampu mengelola hidup dengan baik.

Namun, di sisi lain, mereka juga kesulitan membuka ruang bagi orang lain untuk benar-benar masuk. Bukan karena tidak mau, tetapi karena sejak kecil mereka terbiasa menghadapi semuanya sendirian.

5. Pernah Dikecewakan oleh Orang yang Dipercaya

Pengalaman dikhianati atau dikecewakan oleh orang terdekat—baik itu orang tua, keluarga, atau teman dekat—bisa meninggalkan jejak yang dalam.

Anak belajar bahwa kepercayaan bukanlah sesuatu yang aman.

Saat dewasa, mereka tetap bisa membangun koneksi sosial yang baik, bahkan sangat karismatik. Tetapi ketika seseorang mulai masuk ke lingkaran kepercayaan, mereka akan sangat selektif—dan sering kali menarik diri sebelum benar-benar terbuka.

6. Lingkungan yang Menghargai Penampilan, Bukan Perasaan

Jika seseorang tumbuh di lingkungan yang lebih menekankan “tampil baik” daripada “merasa baik”, mereka belajar untuk mengelola citra diri dengan sangat baik.

Mereka tahu cara bersikap, berbicara, dan membawa diri sehingga disukai banyak orang. Namun, mereka jarang diberi ruang untuk mengenali atau mengekspresikan emosi secara jujur.

Akibatnya, hubungan yang dangkal terasa aman, sementara hubungan yang dalam terasa asing—bahkan menakutkan.

Bukan Tentang Tidak Mau Dekat, Tapi Tentang Cara Bertahan


Penting untuk dipahami bahwa orang-orang seperti ini bukan dingin, bukan juga tidak punya perasaan. Justru sebaliknya—mereka sering kali memiliki dunia emosional yang sangat kaya.

Mereka hanya belajar, dari pengalaman masa lalu, bahwa menjaga jarak adalah cara untuk melindungi diri.

Ketika kita melihat seseorang yang mudah disukai tetapi sulit didekati, mungkin yang kita lihat hanyalah permukaannya. Di balik itu, ada cerita panjang tentang bagaimana mereka belajar mencintai, mempercayai, dan bertahan.

Penutup

Alih-alih memberi label “takut komitmen”, pendekatan yang lebih bijak adalah memahami bahwa setiap orang membawa sejarah emosionalnya sendiri.

Kedekatan bagi sebagian orang bukan sekadar pilihan—melainkan proses yang membutuhkan rasa aman, waktu, dan pengalaman baru yang bisa menggantikan luka lama.

Dan sering kali, yang mereka butuhkan bukan tekanan untuk membuka diri, melainkan seseorang yang cukup sabar untuk tetap ada—tanpa memaksa.
Editor: Hanny Suwindari
Tags
Download Aplikasi JawaPos.com
Download PlaystoreDownload Appstore