
Ilustrasi enam tanda halus yang menunjukkan bahwa Anda meremehkan diri sendiri tanpa menyadarinya./Pexels.
JawaPos.com - Ada perbedaan tipis antara kerendahan hati dan sikap merendahkan diri. Sederhananya, meremehkan diri sendiri seperti berjalan-jalan dengan label diskon permanen. Anda terus menerus meremehkan diri sendiri, tanpa menyadari nilai diri Anda yang sebenarnya.
Menurut Psikologi, terdapat tanda-tanda halus bahwa Anda meremehkan diri sendiri tanpa menyadarinya. Petunjuk-petunjuk ini seperti bel yang berbunyi, mengisyaratkan bahwa sudah waktunya untuk melakukan refleksi diri dan penyesuaian diri yang serius.
Dilansir dari Geediting, terdapat enam tanda halus yang menunjukkan bahwa Anda meremehkan diri sendiri tanpa menyadarinya.
1. Ahli dalam merendahkan diri sendiri
Baca Juga:Ramalan 12 Shio Besok Senin 23 Maret 2026: dari Tikus hingga Babi Diterpa Keberuntungan Hari Esok
Siapa yang tidak suka lelucon yang bagus? Kita semua suka. Terutama jika lelucon itu tentang diri kita sendiri, bukan? Tidak ada salahnya sedikit merendahkan diri untuk mencairkan suasana.
Memiliki selera humor adalah satu hal, tetapi menggunakannya sebagai perisai atau alat untuk meremehkan harga diri Anda adalah hal yang lain.
Seperti yang pernah dikatakan oleh Carl Jung, salah satu psikolog paling berpengaruh di abad ke-20, “Hal yang paling menakutkan adalah menerima diri sendiri sepenuhnya.”
Jika lelucon Anda lebih bertujuan untuk menyembunyikan rasa tidak aman daripada menunjukkan kecerdasan Anda, mungkin sudah saatnya untuk mengevaluasi kembali cara Anda memandang diri sendiri. Kenali nilai diri Anda dan terimalah nilai tersebut tanpa rasa takut atau ragu.
2. Selalu mengatakan 'maaf'
Jika Anda mendapati diri Anda terus-menerus meminta maaf meskipun sebenarnya tidak perlu, itu mungkin pertanda bahwa Anda meremehkan diri sendiri. Seolah-olah Anda merasa perlu meminta maaf karena bersikap angkuh atau mengambil alih ruang.
Psikolog terkenal Dr. Brené Brown pernah berkata, “Rasa memiliki dimulai dengan penerimaan diri. Tingkat rasa memiliki Anda, pada kenyataannya, tidak akan pernah lebih tinggi dari tingkat penerimaan diri Anda.”
Ini menyadari pentingnya menegaskan diri tanpa perlu meminta maaf. Sekarang, Anda dapat lebih memperhatikan permintaan maaf yang terus-menerus dan berusaha untuk menegaskan diri dengan percaya diri tanpa merasa bersalah.
3. Menerima yang lebih sedikit
Baik dalam hubungan, karier, atau tujuan pribadi, jika Anda menerima apa yang kurang dari yang seharusnya Anda dapatkan, itu mungkin pertanda bahwa Anda meremehkan diri sendiri.
Jujur dan apa adanya, seperti masuk ke toko dan tahu Anda punya seratus dolar untuk dibelanjakan, tetapi memilih untuk membeli barang senilai sepuluh dolar saja. Anda tidak memanfaatkan potensi Anda sepenuhnya. Anda menahan diri.
Albert Einstein pernah berkata, "Setiap orang adalah jenius. Namun jika Anda menilai seekor ikan berdasarkan kemampuannya memanjat pohon, ia akan menjalani seluruh hidupnya dengan percaya bahwa ia bodoh."
Kutipan ini berbicara banyak tentang mengenali harga diri Anda sendiri. Jangan puas dengan yang kurang karena takut atau ragu pada diri sendiri. Anda lebih dari mampu untuk mencapai kehebatan. Hargai diri Anda sendiri dan jangan takut untuk menuntut apa yang pantas Anda dapatkan.
4. Kesulitan menerima pujian
Sebuah penelitian yang diterbitkan dalam Jurnal Kepribadian dan Psikologi Sosial menemukan bahwa orang dengan harga diri rendah cenderung mengabaikan pujian, menganggapnya sebagai sanjungan atau tidak tulus.
Mereka kesulitan menerima umpan balik positif, sering kali melihatnya sebagai ancaman bukannya pujian. Jika Anda mendapati diri Anda mengabaikan atau meremehkan pujian, mungkin sudah waktunya untuk melakukan introspeksi.
Terimalah umpan balik positif dan gunakan itu sebagai batu loncatan menuju perbaikan diri dan penerimaan diri. Ingat, menerima pujian dengan lapang dada adalah tindakan menghargai diri sendiri.
5. Selalu mengutamakan orang lain
Mereka selalu mengutamakan kepentingan orang lain di atas kepentingan diri sendiri. Entah itu mengorbankan waktu akhir pekan untuk membantu teman pindah atau membatalkan rencana pribadi untuk mengakomodasi orang lain, mereka selalu mengutamakan kepentingan diri sendiri.
Meskipun patut dipuji untuk bersikap murah hati dan suka menolong, terus-menerus memprioritaskan orang lain dibandingkan diri sendiri bisa jadi merupakan tanda bahwa Anda meremehkan kebutuhan dan waktu Anda sendiri.
Seperti yang dikatakan psikolog terkenal Abraham Maslow, "Tidaklah normal untuk mengetahui apa yang kita inginkan. Itu adalah pencapaian psikologis yang langka dan sulit."
Kutipan ini menyadari bahwa memahami dan memprioritaskan kebutuhan diri sendiri bukanlah hal yang egois, itu adalah langkah penting menuju realisasi diri dan pertumbuhan.
6. Seorang perfeksionis
Jika Anda terus-menerus mengejar kesempurnaan, tidak pernah puas dengan apa pun yang kurang, itu mungkin berarti Anda meremehkan usaha dan pencapaian Anda sendiri.
Psikolog Harriet Braiker mengatakannya dengan sangat cemerlang: “Berusaha mencapai keunggulan memotivasi Anda; berusaha mencapai kesempurnaan justru melemahkan semangat.”
Perfeksionisme sering kali dapat menyebabkan lingkaran setan berupa ekspektasi tinggi, kritik diri, dan stres. Ingatlah, tidak apa-apa untuk berusaha memperbaiki diri, tetapi penting juga untuk merayakan kemajuan dan pencapaian Anda, sekecil apa pun.
