Logo JawaPos
Author avatar - Image
17 Maret 2026, 08.39 WIB

Orang-orang yang Mempertahankan Selera Humor yang Tulus di Masa Pensiun: Biasanya Memiliki 6 Kebiasaan Ini Menurut Psikologi

seseorang yang tetap humor di masa pensiun./Freepik/freepik - Image

seseorang yang tetap humor di masa pensiun./Freepik/freepik

JawaPos.com - Banyak orang membayangkan masa pensiun sebagai periode yang tenang, jauh dari tekanan pekerjaan, dan diisi dengan aktivitas santai.

Namun bagi sebagian orang, pensiun bukan hanya tentang beristirahat—melainkan tentang menikmati hidup dengan lebih ringan dan penuh tawa.

Menariknya, ada kelompok orang yang tetap memiliki selera humor yang tulus bahkan ketika usia bertambah dan rutinitas berubah drastis.

Dalam psikologi, kemampuan untuk tetap tertawa dan melihat sisi lucu kehidupan di usia lanjut sering dikaitkan dengan kesehatan mental yang baik, ketahanan emosional, dan sikap hidup yang positif.

Bahkan beberapa penelitian dalam bidang Psikologi Positif menunjukkan bahwa humor dapat meningkatkan kesejahteraan psikologis, memperkuat hubungan sosial, dan membantu seseorang menghadapi perubahan hidup dengan lebih baik.

Lalu apa yang membuat sebagian orang tetap memiliki humor yang hangat dan alami di masa pensiun? Dilansir dari Silicon Canals pada Sabtu (14/3), terdapat enam kebiasaan yang sering mereka miliki menurut perspektif psikologi.

1. Mereka Tidak Terlalu Serius Menilai Diri Sendiri


Salah satu ciri utama orang yang tetap humoris di usia pensiun adalah kemampuan untuk menertawakan diri sendiri. Mereka tidak merasa perlu menjaga citra yang terlalu kaku atau sempurna.

Dalam psikologi, hal ini sering dikaitkan dengan konsep Self-Compassion—kemampuan untuk memperlakukan diri sendiri dengan kebaikan ketika melakukan kesalahan. Orang yang memiliki self-compassion cenderung tidak terlalu keras pada dirinya sendiri, sehingga lebih mudah melihat sisi lucu dari kesalahan kecil dalam kehidupan sehari-hari.

Alih-alih merasa malu karena lupa menaruh kacamata atau salah menyebut nama cucu, mereka justru menjadikannya bahan cerita yang mengundang tawa.

2. Mereka Tetap Menjaga Rasa Ingin Tahu


Humor sering lahir dari rasa ingin tahu dan keterbukaan terhadap pengalaman baru. Orang yang mempertahankan selera humor di masa pensiun biasanya tidak berhenti belajar.

Dalam kerangka Openness to Experience—salah satu dimensi dalam model kepribadian Big Five Personality Traits—orang yang terbuka terhadap pengalaman baru cenderung lebih kreatif, fleksibel, dan mampu melihat berbagai sudut pandang.

Sifat ini membuat mereka lebih mudah menemukan kelucuan dalam situasi yang tidak biasa atau dalam perubahan yang terjadi di sekitar mereka.

3. Mereka Tetap Aktif Bersosialisasi


Humor sering berkembang dalam interaksi sosial. Orang yang tetap memiliki selera humor tulus biasanya tidak menarik diri dari lingkungan sosial setelah pensiun.

Mereka tetap berkumpul dengan teman lama, mengikuti komunitas hobi, atau aktif dalam kegiatan masyarakat. Interaksi ini membantu menjaga rasa kebersamaan dan memberi banyak momen spontan yang memicu tawa.

Dalam psikologi sosial, hubungan sosial yang sehat sering dikaitkan dengan meningkatnya kesejahteraan emosional dan menurunnya risiko kesepian—faktor penting bagi kesehatan mental di usia lanjut.

4. Mereka Melihat Masalah Sebagai Bagian Normal dari Hidup


Orang yang humoris tidak berarti mereka tidak pernah menghadapi kesulitan. Justru sebaliknya, mereka sering menggunakan humor sebagai mekanisme koping.

Konsep ini dikenal dalam psikologi sebagai Humor as a Coping Mechanism—strategi untuk mengurangi stres dengan melihat sisi ringan dari situasi yang menegangkan.

Alih-alih tenggelam dalam kekhawatiran, mereka mencoba menertawakan absurditas kecil dalam hidup. Pendekatan ini dapat membantu menjaga perspektif dan mengurangi tekanan emosional.

5. Mereka Menghargai Hal-hal Kecil dalam Kehidupan


Selera humor yang tulus sering muncul dari kemampuan menikmati hal-hal sederhana—seperti percakapan ringan, kejadian sehari-hari, atau momen lucu bersama keluarga.

Orang yang memiliki rasa syukur terhadap hal-hal kecil biasanya juga lebih mudah tertawa. Dalam penelitian tentang kesejahteraan psikologis, praktik Gratitude Practice sering dikaitkan dengan meningkatnya kebahagiaan dan pandangan hidup yang lebih positif.

Ketika seseorang terbiasa menghargai momen kecil, ia juga lebih peka terhadap keindahan dan kelucuan yang sering terlewatkan oleh orang lain.

6. Mereka Tidak Kehilangan Rasa Bermain


Kebiasaan terakhir yang sering ditemukan adalah kemampuan untuk tetap “bermain” meskipun usia bertambah.

Dalam psikologi perkembangan, rasa bermain sering dikaitkan dengan konsep Playfulness—sikap mental yang memungkinkan seseorang menikmati aktivitas dengan spontanitas, kreativitas, dan ringan hati.

Orang yang tetap playful biasanya tidak takut terlihat konyol. Mereka bisa bercanda dengan cucu, membuat lelucon ringan dalam percakapan, atau menikmati kegiatan sederhana seperti permainan papan atau cerita lucu.

Sikap ini menjaga semangat hidup tetap muda, bahkan ketika usia bertambah.

Penutup


Masa pensiun sering dianggap sebagai periode perlambatan hidup, tetapi bagi banyak orang, ini justru menjadi fase di mana mereka menemukan cara baru untuk menikmati kehidupan. Humor yang tulus bukan hanya soal kemampuan membuat orang lain tertawa, tetapi juga tentang cara seseorang memandang dunia.

Dengan tidak terlalu keras pada diri sendiri, tetap terbuka terhadap pengalaman baru, menjaga hubungan sosial, menggunakan humor sebagai cara menghadapi stres, menghargai hal kecil, dan mempertahankan rasa bermain, banyak orang mampu menjaga keceriaan bahkan di usia senja.

Pada akhirnya, humor bukan sekadar hiburan—ia adalah bentuk kebijaksanaan emosional yang membantu seseorang menjalani hidup dengan lebih ringan, hangat, dan manusiawi.*
Editor: Hanny Suwindari
Tags
Download Aplikasi JawaPos.com
Download PlaystoreDownload Appstore