Logo JawaPos
Author avatar - Image
14 Maret 2026, 05.22 WIB

Sering Overthinking, Ini 7 Ciri Orang yang Selalu Membayangkan Skenario Terburuk

Ilustrasi seseroang yang overthinking/freepik - Image

Ilustrasi seseroang yang overthinking/freepik

JawaPos.com - Ada perbedaan menarik antara orang yang realistis dan orang yang suka meramalkan bencana. Perbedaan ini terletak pada perspektif.

Bersikap waspada bukan hanya tentang mengharapkan hal yang terburuk, tetapi juga memikirkan kemungkinan terburuk, yang sering kali muncul tanpa alasan yang jelas. Namun, menjadi seorang yang realistis berarti mengakui potensi kegagalan tanpa membiarkannya menguasai setiap pikiran Anda.

Orang-orang ini memiliki ciri khas yang membedakannya dengan orang lain. Dilansir dari Geediting, inilah tujuh ciri khas dari orang-orang yang selalu membayangkan skenario terburuk.

1. Mengantisipasi kegagalan

Bukan hal yang aneh bagi orang untuk memvisualisasikan kemungkinan hasil sebelum membuat keputusan. Namun bagi mereka yang terus-menerus membayangkan skenario terburuk, proses ini menjadi sangat rumit.

Orang-orang ini cenderung membayangkan kegagalan dan bukan sekadar kegagalan biasa. Kita berbicara tentang kegagalan yang dahsyat dan menggemparkan. Kegagalan yang membuat Anda terjaga di malam hari.

Antisipasi bencana ini tidak hanya terbatas pada pilihan hidup utama. Hal ini juga dapat merembes ke dalam tugas sehari-hari. Perjalanan sederhana ke toko kelontong dapat berubah menjadi kecelakaan mobil imajiner atau pertemuan tak terduga dengan mantan.

2. Terlalu menganalisis kejadian masa lalu

Analisis terus-menerus terhadap peristiwa masa lalu merupakan ciri khas lain dari orang yang membayangkan skenario terburuk. Ini seperti mesin waktu mental yang hanya berputar mundur, mengamati setiap momen untuk mencari potensi bencana.

Meskipun refleksi diri merupakan bagian penting dari pertumbuhan pribadi, terobsesi dengan kejadian masa lalu dapat melelahkan secara mental dan kontraproduktif. Ini tentang menemukan keseimbangan antara belajar dari pengalaman kita dan berkutat pada pengalaman tersebut.

3. Kesulitan saat mengambil keputusan

Luangkan waktu sejenak dan pertimbangkan berapa banyak keputusan yang Anda buat dalam sehari. Dari apa yang akan dikenakan hingga apa yang akan dimakan, dari rute mana yang akan diambil ke kantor hingga film mana yang akan ditonton di Netflix, setiap hari kita dipenuhi dengan pilihan yang tak terbatas.

Orang yang selalu membayangkan skenario terburuk sering kali kesulitan dalam mengambil keputusan. Ini karena mereka melihat setiap pilihan sebagai potensi bencana yang siap terjadi.

Penelitian dalam ilmu saraf pengambilan keputusan telah menunjukkan bahwa orang dengan kecenderungan ini memiliki lebih banyak aktivitas di korteks cingulate anterior otak mereka.

Area ini bertanggung jawab untuk mendeteksi konflik, yang menunjukkan bahwa mereka mengalami lebih banyak konflik dan stres saat membuat keputusan.

4. Sering mengharapkan penolakan

Penolakan merupakan bagian dari kehidupan, namun bagi orang yang selalu membayangkan skenario terburuk, penolakan sering kali merupakan hasil yang diharapkan.

Baik saat melamar pekerjaan, mengajak seseorang berkencan, atau sekadar berbagi ide dalam rapat, orang-orang ini cenderung mempersiapkan diri untuk menerima tanggapan negatif.

Dalam benak mereka, mereka sudah membayangkan penolakan, merasakan kekecewaan, dan bersiap menghadapi dampaknya, bahkan sebelum mengambil tindakan. Harapan akan penolakan ini dapat melumpuhkan.

Hal ini dapat mencegah mereka mengambil risiko, mengekspresikan perasaan, atau mengejar peluang.

5. Berjuang melawan perfeksionis

Kesempurnaan adalah tujuan yang sulit dicapai. Perjuangan melawan perfeksionisme ini umum terjadi di antara orang-orang yang membayangkan skenario terburuk. Segala sesuatu yang kurang dari sempurna dianggap sebagai bencana potensial.

Sayangnya, hal ini sering kali menyebabkan penundaan atau bahkan penghindaran tugas sama sekali. Perfeksionisme adalah pedang bermata dua. Meskipun dapat mendorong seseorang untuk menghasilkan pekerjaan berkualitas tinggi, perfeksionisme juga dapat menyebabkan stres dan kelelahan yang berlebihan.

6. Respon stres yang meningkat

Stres merupakan respons alami tubuh terhadap potensi bahaya. Stres membantu nenek moyang kita bertahan hidup di alam liar. Namun, bagi orang yang selalu membayangkan skenario terburuk, respons stres ini bisa jadi berlebihan.

Bayangkan merasakan adrenalin yang terpacu, jantung yang berdebar kencang, telapak tangan yang berkeringat, bukan karena Anda menghadapi ancaman nyata, tetapi karena Anda membayangkan ancaman potensial.

Respons stres yang meningkat ini dapat menyebabkan gejala fisik seperti sakit kepala, masalah perut, dan gangguan tidur. Hal ini juga dapat menyebabkan masalah kesehatan mental seperti kecemasan dan depresi.

Penting untuk diingat bahwa masalahnya bukan pada stres itu sendiri, tetapi pada bagaimana kita mengelolanya. Teknik-teknik seperti bernapas dalam, meditasi, dan olahraga teratur dapat membantu mengendalikan respons stres.

7. Bisa sangat tangguh

Terus-menerus membayangkan skenario terburuk bisa melelahkan, tetapi juga dapat membuat orang menjadi sangat tangguh. Bila Anda selalu menduga yang terburuk, Anda juga selalu bersiap untuk itu.

Anda telah memikirkan setiap kemungkinan bencana dalam benak Anda, dan saat melakukannya, Anda juga memikirkan cara mengatasinya. Artinya, ketika terjadi kesalahan, orang yang membayangkan skenario terburuk sering kali siap menghadapi akibatnya.

Mereka telah melatih respons mereka secara mental, dan ini dapat membuat mereka sangat tangguh dalam menghadapi kesulitan yang sebenarnya.

Editor: Setyo Adi Nugroho
Tags
Download Aplikasi JawaPos.com
Download PlaystoreDownload Appstore