Logo JawaPos
Author avatar - Image
30 Maret 2026, 18.44 WIB

Tentara Indonesia Gugur dalam Misi Perdamaian PBB di Lebanon Selatan, 3 Lainnya Terluka Akibat Serangan Artileri

Anggota penjaga perdamaian Indonesia yang tergabung dalam United Nations Interim Force in Lebanon (UNIFIL) mengikuti upacara di markas mereka di Lebanon selatan pada 2022 (SCMP) - Image

Anggota penjaga perdamaian Indonesia yang tergabung dalam United Nations Interim Force in Lebanon (UNIFIL) mengikuti upacara di markas mereka di Lebanon selatan pada 2022 (SCMP)

JawaPos.com - Seorang prajurit Indonesia yang bertugas dalam misi penjaga perdamaian PBB, United Nations Interim Force in Lebanon (UNIFIL), tewas akibat ledakan proyektil di Lebanon Selatan. Tiga personel lainnya mengalami luka-luka akibat tembakan artileri tidak langsung. Insiden ini kembali menyoroti tingginya risiko yang dihadapi pasukan penjaga perdamaian di kawasan konflik tersebut.

Misi penjaga perdamaian Perserikatan Bangsa-Bangsa di Lebanon, UNIFIL, dalam pernyataan resminya menyebut seorang peacekeeper meninggal dunia setelah sebuah proyektil meledak di salah satu pos mereka di dekat desa Adchit al-Qusayr pada Minggu (29/3/2026). Selain itu, satu personel lainnya dilaporkan mengalami luka kritis.

Dilansir dari South China Morning Post, Senin (30/3/2026), Kementerian Luar Negeri Indonesia mengonfirmasi bahwa korban meninggal merupakan warga negara Indonesia yang sedang bertugas dalam kontingen UNIFIL. Tiga personel Indonesia lainnya juga dilaporkan terluka akibat dampak tembakan artileri tidak langsung di sekitar posisi pasukan Indonesia di wilayah yang sama.

Dalam pernyataannya, UNIFIL menegaskan bahwa asal proyektil yang menyebabkan ledakan masih belum dapat dipastikan. "Kami tidak mengetahui asal proyektil tersebut. Kami telah meluncurkan penyelidikan untuk menentukan seluruh keadaan yang melatarbelakangi insiden ini," demikian pernyataan resmi UNIFIL yang dikutip secara langsung.

Insiden ini terjadi di tengah meningkatnya ketegangan di Lebanon Selatan, wilayah yang menjadi garis demarkasi sensitif antara Israel dan kelompok bersenjata Hezbollah yang didukung Iran. Kawasan itu dalam beberapa tahun terakhir kerap menjadi titik bentrokan bersenjata antara kedua pihak.

UNIFIL sendiri ditempatkan di wilayah tersebut dengan mandat untuk memantau permusuhan dan menjaga stabilitas di sepanjang perbatasan. Namun, dalam praktiknya, misi ini semakin sering berada di tengah konflik aktif, bahkan kerap terkena dampak langsung dari eskalasi militer.

Kementerian Luar Negeri Indonesia mengecam keras insiden tersebut dan menegaskan bahwa serangan terhadap personel penjaga perdamaian tidak dapat dibenarkan dalam kondisi apa pun. Selain itu, pemerintah Indonesia kembali menyuarakan kecaman terhadap serangan militer Israel di Lebanon selatan yang dinilai memperburuk situasi keamanan di kawasan tersebut.

UNIFIL juga mengeluarkan seruan tegas kepada semua pihak yang terlibat konflik. "Sekali lagi, kami menyerukan kepada semua aktor untuk mematuhi kewajiban mereka berdasarkan hukum internasional serta menjamin keselamatan dan keamanan personel dan properti PBB setiap saat, termasuk dengan menahan diri dari tindakan yang dapat membahayakan penjaga prdamaian," demikian pernyataan resmi UNIFIL.

Sementara itu, insiden ini bukan yang pertama dalam beberapa pekan terakhir. Pada 6 Maret 2026, markas batalion penjaga perdamaian Ghana di Lebanon dilaporkan terkena serangan rudal yang menyebabkan dua tentaranya mengalami luka kritis. Militer Israel kemudian mengakui bahwa tembakan tank mereka telah mengenai posisi PBB, dengan alasan sebagai respons terhadap serangan rudal antitank dari Hizbullah.

Lebih lanjut, pihak militer Israel menyatakan bahwa serangan tersebut dilakukan setelah dua tentaranya mengalami luka akibat serangan Hizbullah. Kondisi ini sekaligus menegaskan kompleksitas konflik di wilayah tersebut, di mana posisi penjaga perdamaian kerap berada di antara dua kekuatan yang saling menyerang.

Editor: Candra Mega Sari
Tags
Download Aplikasi JawaPos.com
Download PlaystoreDownload Appstore