
Presiden Donald Trump menjawab pertanyaan wartawan di Gedung Putih, 17 Maret 2026. (Al Jazeera)
JawaPos.com — Ketegangan geopolitik di Timur Tengah kembali meningkat setelah Iran secara resmi menolak proposal gencatan senjata yang diajukan pemerintahan Donald Trump.
Sebagai respons, Teheran mengajukan lima syarat utama yang dinilai mencerminkan posisi negosiasi yang jauh lebih tegas dan strategis, sekaligus memperlihatkan bahwa konflik belum akan mereda dalam waktu dekat.
Situasi ini menandai fase baru dalam dinamika konflik regional yang melibatkan tidak hanya Amerika Serikat, tetapi juga Israel serta sejumlah negara di kawasan Teluk Persia. Iran menegaskan bahwa penghentian perang sepenuhnya berada dalam kendali mereka, bukan ditentukan oleh Washington.
Melansir The Hill, Kamis (26/3/2026), Iran menyampaikan bahwa mereka hanya akan mengakhiri perang “pada waktu yang mereka pilih sendiri dan hanya jika seluruh syarat yang telah ditetapkan terpenuhi.” Dalam pernyataan resmi Konsulat Iran di Mumbai yang diunggah di platform X, ditegaskan, “Iran tidak akan membiarkan Trump menentukan waktu berakhirnya perang.”
Lebih lanjut, laporan dari The Associated Press mengungkapkan bahwa seorang pejabat Iran yang tidak disebutkan namanya menyatakan Teheran akan terus melancarkan serangan dengan “pukulan berat” di kawasan, menandakan bahwa eskalasi militer masih menjadi opsi aktif.
Untuk itu, Jawa Pos telah merangkum lima syarat utama yang diajukan Iran sebagai prasyarat penghentian perang. Berikut poin-poin yang dimaksud:
1. Penghentian Total Agresi Militer
Syarat pertama yang diajukan Iran adalah penghentian total segala bentuk “agresi dan pembunuhan” oleh pihak musuh, khususnya Amerika Serikat dan Israel.
Pernyataan ini mencerminkan posisi defensif sekaligus ofensif Iran, yang menganggap serangan terhadap wilayah dan kepentingannya sebagai pelanggaran serius terhadap kedaulatan negara.
